<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kineklub LFM ITB</title>
	<atom:link href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 14:09:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>I AM (2012)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/18/i-am-2012/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/18/i-am-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 14:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damasdamas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asian Movie Review]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2135</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/I-Am-Poster.jpg"></a></p>
<div>
<p class="MsoNormal">Saya adalah seorang fans Kpop. Saya menonton I AM dengan perspektif seorang fans kpop. Tapi saya masih shock dengan pengalaman saya menonton I AM. Saya shock karena dari awal sampai akhir film penonton di bioskop berteriak-teriak. &#8220;AAAAAH</p></div><p>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/I-Am-Poster.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2136" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/I-Am-Poster-218x300.jpg" alt="" width="218" height="300" /></a></p>
<div>
<p class="MsoNormal">Saya adalah seorang fans Kpop. Saya menonton I AM dengan perspektif seorang fans kpop. Tapi saya masih shock dengan pengalaman saya menonton I AM. Saya shock karena dari awal sampai akhir film penonton di bioskop berteriak-teriak. &#8220;AAAAAH GANTENG BANGET&#8221; atau &#8220;AAAAAAH BAGUS BANGET AKU SAMPE NANGIS&#8221;. Sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali penonton bertepuk tangan, atau berkata &#8220;aaaaaw&#8221; tentang sesuatu yang menurut saya tidak segitu sedihnya. Dan bisa saya katakan bahwa hal-hal tersebut <em>annoying</em> untuk saya dan mengganggu kenikmatan saya menonton film ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya adalah seorang fans kpop, tapi saya juga kritikus film. Terlepas dari reaksi penonton yang mengganggu saya, saya akan berusaha menilai film ini sebagai sebuah film dokumenter. Disini saya akan membuat dua review ; satu adalah review di website ini dimana saya akan menilai film ini secara umum dan yang satu lagi adalah review yang hanya dapat dimengerti oleh seorang fans kpop yang akan saya post di blog saya yang bisa dibaca<a href="http://movienostalgia-damasdamas.blogspot.com/2012/05/i-am.html" target="_blank"> disini</a> (review saya yang itu lebih dalam dan detail)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sebenarnya apa itu I AM? I AM adalah sebuah film dokumenter tentang artis-artis SM Entertainment, sebuah agency artis di Korea (Disebut juga SM Town). SM Entertainment adalah agency paling terkenal di Korea, dengan roster artis <strong>TVXQ, Super Junior, SNSD, SHInee, f(x), BoA,</strong> dan<strong> Kangta</strong>. Bagi orang yang tidak tertarik sama sekali dengan Korea, mungkin pernah mendengar dua nama paling terkenal :<strong> Super Junior </strong>dan <strong>SNSD</strong>. Keduanya merupakan artis yang bernaung di <em>agency</em> ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sedikit informasi bagi yang tidak tahu, agen penyanyi di Korea berbeda dengan di Amerika. Di Amerika, orang yang berbakat akan diambil oleh agen (Sony Music misalnya) untuk kemudian debut. Di Korea, agen penyanyi lah yang bertugas membuat seorang yang tidak berbakat sama sekali menjadi bisa menyanyi dengan masa <em>trainee</em> yang bisa berlangsung dari 3-8 tahun. Agen tersebut mencari anak-anak yang kemudian akan dilatih beberapa tahun untuk kemudian debut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/gallery_img_13b.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2139" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/gallery_img_13b-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Nah isi film ini sebenarnya apa? Film ini merupakan sebuah dokumenter tentang proses yang dijalani para artis SM Entertainment dari mulai masa trainee, debut, sampai sekarang. Ini disajikan dengan cuplikan-cuplikan wawancara beserta cuplikan konser <strong>SMTown Live in New York</strong> di <strong>Madison Square Garden</strong> akhir tahun lalu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Satu hal yang menonjol untuk saya dari film ini adalah editingnya yang menarik. Film ini diedit sedemikian rupa sehingga membuat dokumenter ini tidak membosankan, dengan cuplikan konsernya diselingi dengan wawancara masing-masing artis. Cuplikan masa trainee dan debut mereka juga diperlihatkan, yang saya yakin tidak akan bisa ditonton di tempat lain. <em>Behind the Scenes</em> konser SMTown juga ditayangkan disini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Durasi film ini 2 jam 15 menit, tapi bagi fans kpop durasi tersebut akan terasa kurang. Bagi saya informasi yang saya dapat sehabis menonton film ini tidak begitu banyak, namun I AM dikemas dengan sebegitu apik sehingga tidak bosan menontonnya. Disini <em>packaging is everything</em>. Film dimulai dengan rekaman <em>handycam </em>yang buram dari liburan SNSD ke pantai 2 minggu sebelum debut pada tahun 2007, kemudian gambar beralih ke SNSD di atas panggung pada konser SMTown 2011 kemarin, memakai blazer dan hot pants, looking gorgeous, bernyanyi Genie. Di awal film ada cuplikan video-video para artis SM yang baru bangun dan menyapa penonton, sedangkan di akhir film ada cuplikan mereka bersiap tidur. Dengan editan apik, I AM terasa berkualitas dan personal, ditambah dengan banyaknya video-video para artis yang terasa personal.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagi penggemar kpop, terutama artis-artis SM Entertainment, ini adalah film yang harus ditonton. Bagi penyuka kpop yang tidak begitu tahu tentang bagaimana cara bekerja kpop di belakang layar, tonton saja ini. Bagi yang tidak tahu dan tidak tertarik dengan kpop tidak akan menemukan bagusnya dokumenter ini, karena ini adalah film yang dibuat untuk fans. <em>A very well done documentary, even though the ticket is overpriced</em> (130 ribu di Blitz Megaplex, karena hak siarnya yang mahal dan hanya diberikan ke 3 negara). Indonesia merupakan negara pertama yang menayangkan I AM, dengan Korea pun baru menayangkannya bulan depan. Bila anda fans tontonlah, bila tidak, anda tidak akan menemukan keasyikan menonton film ini. Bila anda laki-laki, <strong>SNSD </strong>dan <strong>f(x)</strong> sangat cantik di film ini. Bila anda perempuan, <strong>Siwon</strong> dan <strong>Minho </strong>juga ganteng di film ini.  Mungkin itu alasan yang cukup untuk menonton <img src='http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Hapsari Darmastuti</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/18/i-am-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE BIG YEAR (2011)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/17/the-big-year-2011/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/17/the-big-year-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 19:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasdwi_adiguna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2128</guid>
		<description><![CDATA[<p>Prepare yourself, <strong>The Big Year (2011)</strong> is coming!</p>
<p>Bagi pecinta kegiatan <em>birding</em> (mengamati burung), The Big Year  merupakan sebutan untuk tahun yang akan mereka habiskan mengamati burung-burung  sambil berkompetisi. Setiap tahunnya, majalah ‘Birding’ melakukan penghargaan  bagi pengamat yang paling banyak&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prepare yourself, <strong>The Big Year (2011)</strong> is coming!</p>
<p>Bagi pecinta kegiatan <em>birding</em> (mengamati burung), The Big Year  merupakan sebutan untuk tahun yang akan mereka habiskan mengamati burung-burung  sambil berkompetisi. Setiap tahunnya, majalah ‘Birding’ melakukan penghargaan  bagi pengamat yang paling banyak mengamati spesies burung dalam waktu tahun,  berupa tercatatnya nama mereka di majalah bergengsi tersebut sebagai<em> The  Greatest Birder of The Year</em>. Tahun ini, sang pemegang rekor yaitu  <strong>Kenny Bostick (Owen Wilson) </strong>harus mempertahankan gelarnya pada  tahun sebelumnya karena 2 orang baru akan memasuki arena, <strong>Brad Harris  (Jack Black)</strong> si programmer yang diam-diam terobsesi dengan burung dan  menabung untuk membiayai perjalanannya, serta <strong>Stu Preissler (Steve  Martin)</strong> pria tua yang hendak pensiun dari jabatannya sebagai eksekutif  di perusahaan yang dia dirikan sendiri. Mereka bertiga akan menghabiskan total  365 hari berkelana ke seluruh dunia memburu ke belahan dunia manapun burung  tersebut hinggap.</p>
<p>Sebagai film komedi, agaknya film ini menjanjikan sesuatu. Nggak usah  jauh-jauh, melihat jajaran castnya saja saya sudah berekspektasi film ini adalah  film slapstick pengumbar tawa. Jack Black sudah tidak asing lagi di ranah  komedi, Steve Martin yang selalu melekat di otak saya sebagai seorang ayah  konyol di <strong>Cheaper by the Dozen (2003)</strong>, ditambah lagi Owen  Wilson sang <strong>Wedding Crasher (2005).</strong> Buat saya, film komedi  dengan pentolan pemain seperti mereka mungkin hanya akan berakhir sebagai film  persaingan bodoh yang selalu bertabrakan secara “beruntung” sehingga sang  antagonis akan melakukan perbuatan konyol untuk mempertahankan gelarnya dari duo  protagonis tersebut, dan berujung pada konsekuensi yang konyol pula.Tapi saya  harus mengakui, film ini melebihi ekspektasi saya, minimal film ini sangat  berkesan buat saya pribadi walaupun belum bisa disebut “bagus”.</p>
<p><strong>Cerita komedi dan soal realita</strong></p>
<p>Dengan performa finansial film ini yang mengecewakan di pasaran, hanya  membuahkan 7,2 juta dolar dari total perkiraan budget sebesar 41 juta dolar  (wow), mungkin bisa jadi alasan untuk mengurungkan niat menonton film ini. Saya  pun tadinya agak “berat” untuk menontonnya (100 menit merupakan waktu yang  berharga, bung). Ternyata, cerita yang disuguhkan mampu melewati batas yang saya  turunkan. Ceritanya mengalir dengan realistis. Obsesi mengamati burung sampai ke  antah berantah tentu merupakan obsesi yang agak sulit diterima orang-orang  terdekat kan? DItambah lagi film ini mengangkat obsesi yang mengharuskan mereka  berkelana selama 1 tahun penuh. Konflik yang ada di film ini tidak hanya soal  persaingan ketat di antara mereka, namun juga konflik sekunder dengan kehidupan  mereka masing-masing.</p>
<p>Nah, disinilah rawannya cerita persaingan yang menembus konflik pribadi,  karena kalau nggak hati-hati, mereka bisa tampil sebagai orang yang bukan  manusia dengan melakukan berbagai cara sampai melakukan hal-hal yang kurang  masuk akal. Jack Black, seperti biasa, masih memerankan peran pria yang slebor  dan konyol, peran yang sudah saya antisipasi sejak melihat namanya di poster  film ini. Steve Martin pun masih menjadi seorang ayah yang <em>heartwarming </em>namun konyol di sisi yang lain. Pengembangan karakter mereka berdua sebagai  Brad dan Stu untungnya tidak terjebak di lubang “usaha babi buta” tersebut.  Mereka masih tampil manusiawi, secara mereka akan pergi 365 hari bulat, tentu  tidak hanya obsesi yang ada di otak mereka, tapi juga pasti bercampur dengan  kerinduan akan keluarga dan masalah pribadi lain. Penceritaan kehidupan pribadi  ini kemudian diparalelkan jadi 3 jalur, untuk melihat lebih intim kehidupan  masing-masing dari mereka diluar kegiatan <em>birding</em>. Brad yang terpaksa  harus lembur dan kerja keras untuk mengganti jam kerja (dan uang) yang hilang,  konflik dalam keluarga Brad yang harus diselesaikan, ataupun Stu yang harus  mondar-mandir kantornya demi mengurus beberapa pertemuan penting, memang logis  dilakukan. Oh, terkecuali Bosnick yang mulai terasa tidak logis dan tidak  manusiawi sejak dirinya hendak menjenguk istrinya di rumah sakit. Penceritaan  dirinya malah pelan-pelan jatuh ke bagian drama, dan Bosnick mulai menjadi  antagonis murni, tanpa sisi manusia.</p>
<p><strong><em>Totally Bird-gasms!</em></strong></p>
<p>Takut nggak ngerti ketika menonton film ini yang sarat dengan istilah  perburungan? Jangan khawatir, film ini bakal memandu dan menjelaskan sedetil  mungkin sehingga saya yang bodoh soal burung malah mendapatkan info-info yang  menarik mengenai dunia birding. Serius, ini keren banget. Saya yakin kalian  bakal banyak mendengar spesies-spesies burung asing dan mengapa mereka berharga.  Sehingga masuk akal kalau mereka bisa jatuh-bangun cuman berusaha mengejar  penerbangan satu-satunya ke Antartika demi melihat burung yang nggak terlihat  lagi di Amerika selama 30 tahun kebelakang. Kalian bakal tau kenapa ramalan  cuaca yang sering diremehkan justru merupakan petunjuk berharga destinasi  selanjutnya, kemana harus mencari informasi mengenai burung yang akurat, dan  ternyata ada kamp khusus bagi <em>birder</em> di seluruh dunia untuk berkegiatan  di Attu, Antartika. Narator yang siap sedia memandu jalan cerita seakan reality  show <em>The Amazing Race</em> mungkin sedikit menyebalkan, tapi justru banyak  informasi berharga yang disampaikan mengenai burung olehnya. Lumayan kok buat  nambah pengetahuan…</p>
<p>Ditambah lagi dengan stock-stock footage tentang burung yang menggunung  selama film ini diputar. Lincahnya kamera menangkap kegiatan mereka dari atas  helikopter seakan sebuah dokumenter <em>Discovery Channel</em> (terlalu  berlebihan sih). Dan jangan lupakan lucunya tingkah polah burung-burung tersebut  dengan berbagai spesiesnya (walaupun beberapanya sangat terlihat CGI), jadi poin  lebih untuk mendecakkan lidah buat sebuah film komedi.</p>
<p><strong>Komedi?</strong></p>
<p>Oh iya, bahkan saya sampai lupa kalau saya lagi membahas film  komedi. Sepertinya film ini sebenarnya lebih drama komedi, dengan sedikit  condong ke drama (dilihat dari banyaknya material humor yang berusaha diangkat  selama 100 menit). Jangan harapkan mereka akan saling melakukan tindakan  konyol khas komedi kacangan (walaupun Jack Black yang terjatuh di bokong saat  melakukan birding tetap merupakan komedi yang klasik), humor-humornya standar  sehingga kurang memancing tawa lebar. Malah dramanya sih yang lebih terasa, tapi  okelah buat pelepas stress.</p>
<p>Pokoknya, <strong>The Big Year bukan sebuah film komedi yang bisa diremehkan.  Natural, realistis, nggak dipenuhi komedi kacang, <em>and fully loaded with  information</em></strong>. Saya sampai tungguin creditnya karena penasaran  mungkinkah mereka dibiayai oleh organisasi pecinta burung atau sejenisnya. Bukan  tergolong <em>a must see movie</em>, tapi <strong>David Frankel</strong> sebagai  sutradaranya berhasil bikin film komedi yang beda, dan jadi sebuah <em>a must  try</em> dengan total nilai sebesar 70% yang saya berikan untuk film ini. Nggak jelek, kan?</p>
<p style="text-align: right"><strong>Dimas Dwi Adiguna</strong></p>
<p><strong>The Big Year | Tahun: 2011 | Genre: Comedy, Drama | Sutradara: David Frankel | Pemain: Jack Black, Steve Martin, Owen Wilson</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/17/the-big-year-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FARGO (1996)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/17/fargo-1996/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/17/fargo-1996/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 10:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasdwi_adiguna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2122</guid>
		<description><![CDATA[<p>Coen Brother biasanya menyuguhkan film komedi yang selalu susah saya cerna. Sebelumnya, <strong>“No Country for Old Man” (2007)</strong> dan <strong>“Burn After Reading” (2008)</strong> berlalu begitu saja setelah saya tonton karena…<em>what the?</em> Saya bener-bener nggak ngerti komedinya di sebelah mana (buat Burn After&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coen Brother biasanya menyuguhkan film komedi yang selalu susah saya cerna. Sebelumnya, <strong>“No Country for Old Man” (2007)</strong> dan <strong>“Burn After Reading” (2008)</strong> berlalu begitu saja setelah saya tonton karena…<em>what the?</em> Saya bener-bener nggak ngerti komedinya di sebelah mana (buat Burn After Reading tentu saja), dan karakter serta alasan penggerak ceritanya selalu berkutat dengan nafsu dan sisi gelap seorang manusia. Dua film tersebut sudah cukup mendapuk saya sebagai seorang penonton yang pencernaannya bermasalah untuk film-film mereka.</p>
<p>Dan suatu ketika, saya menonton <strong>“Fargo” (1996)&#8230;</strong></p>
<p>Fargo adalah suatu daerah di Utara Dakota yang menjadi tempat bertemunya <strong>Jerry Lundergaard (William H Macy)</strong> dengan 2 orang yang akan membantunya melakukan sebuah aksi kriminal, <strong>Carl Showalter (Steve Buscemi)</strong> dan <strong>Gaear Grimsrud (Peter Stormare)</strong>. Aksi kriminal yang hendak mereka lakukan agak sedikit “lain dari biasanya” : menculik istri Jerry, yang notabene memiliki ayah yang kaya raya, agar bisa dimanfaatkan untuk meminta uang tebusan. Aksi penculikan berjalan lancar, sampai akhirnya mereka bertiga harus menyadari kalau kedepannya, rencana mereka yang hanya ingin berupa penculikan biasa tanpa darah akan melenceng jauh dari semula seiring bertambahnya volume darah yang mengalir dan pihak yang terlibat…</p>
<p>Setelah menontonnya, dari seluruh quotes-quotes yang menarik, saya paling suka kalimat penutupnya, konklusi yang bermakna buat seluruh kegilaan 90 menit kebelakang</p>
<blockquote><p>“…and for what? For a little bit of money. There’s more to life than a little money, you know? <em>&lt;stopped&gt;</em>Don’t you know that? And here you are, and it’s a beautiful day. I just don’t understand it”</p></blockquote>
<p>Merasa teringat sesuatu? Buat saya pribadi, No Country for Old Man dan Fargo mencoba bercerita hal yang sama. Seseorang yang tidak pernah bisa mengerti kenapa hal-hal bodoh semacam ini bisa terjadi di dunia ini. Peran <strong>Marge Gunderson (Frances McDormand)</strong> di Fargo buat saya analog dengan Ed Tom Bell (Tommy Lee Jones) dari NCMO. Menonton film ini sebenernya seakan kita jadi saksi : betapa manusia bisa menjadi makhluk yang bodoh jika harus berhadapan dengan sekoper penuh uang. Aksi penculikan ini direncanakan semula cuma sebagai akal-akalannya Jerry untuk mendapatkan uang (dimana alasannya masih belum jelas untuk apa). Tapi memang dasarnya mereka bertiga masih memiliki ego masing-masing, rencana yang berusaha menjadi simpel itu malah tidak terkontrol.</p>
<p>Dan soal ‘out-of-control’, seluruh kekacauan ini bisa jadi gagal dinikmati oleh penonton kalau performa talent-nya kacangan, yang mana ternyata nggak sama sekali. Sepertinya karakter Carl di film ini diciptakan untuk Steve Buscemi saja. Seorang kriminal cerewet, bertampang konyol, tapi mudah gugup dan panik. Pas! Saya menonton aktingnya sebelum ini di <strong>Reservoir Dogs (1992)</strong> dan karakternya nggak jauh beda dengan perannya di film ini. Frances McDormand yang di berbagai posternya dipatok jadi tokoh utama (walaupun kemunculannya baru terasa di setengah akhir film) bisa memerankan Marge sebagai polisi yang alami, bukan polisi yang emosional atau yang “kerja kerasnya nggak logis” khas film action mahal. Bahkan gosipnya William H Macy bener-bener menginginkan dirinya bisa memerankan Jerry di film ini sampai mengejar ke lokasi syutingnya. Beuh.</p>
<p>Oh iya, buat yang nggak suka darah, silakan nikmati film ini sambil menutup mata di beberapa adegannya. Sebenernya film ini bukan sejenis film “sadis-bacok” atau apapun, malah aksi kekerasannya tergolong jarang-jarang. Tapi sekalinya terjadi, Coen memastikan adegannya sefrontal mungkin (<em>you know</em>, menghilangkan mayat dengan <em>wood chipper</em> bukan sebuah aksi kekerasan yang “bersih”). Eh tapi tenang dulu, keseluruhan film ini masih <em>enjoyable</em> kok buat ditonton. Elemen kekerasannya disini nggak seenaknya dieksploitasi oleh sang sutradara sepanjang film cuman karena film ini ingin dibuat sebagai dark comedy, jadi secara keseluruhan masih bisa dinikmati oleh orang-orang berperut lemah. Dan tentu saja, bukan dalam artian dinikmati bersama-sama keluarga, tentunya.</p>
<p>Humor disini bukanlah humor yang umum kita ketahui, seperti dialog dengan punchline yang lucu, adegan slapstick, atau sebagainya. Film ini sepertinya ingin menyuguhkan bahwa kenyataan di sekitar kita dan kegilaan di dalamnya ternyata bisa lebih lucu karena seringkali tidak bisa kita logikakan. Saya pribadi sih agak susah untuk terpancing terbahak-bahak, mungkin sedikit tawa geli saja karena ketololan dari kalimat-kalimat di film ini. Tapi overall, Fargo membuat saya bisa lebih mengerti sudut pandang Joel dan Ethan Coen melalui film-film lainnya. <strong>Fargo adalah dark comedy tentang diri kita sebagai manusia</strong>, yang disampaikan melalui kejadian-kejadian tidak terkontrol di film ini (terlepas dari kejadian tersebut ternyata memang kisah nyata). Soal ini humor atau bukan, itu ranah yang terlalu subjektif kayaknya (bahkan biasanya sesama pelawak Indonesia pun nggak sama lucunya), biarlah saya serahkan ke seluruh penonton semua untuk menilainya</p>
<p><strong>Dimas Dwi Adiguna</strong></p>
<p><strong>Fargo | Tahun: 1996 | Genre: Comedy, Crime | Sutradara: Joel Coen | Penulis : Ethan dan Joel Coen | Pemain: William H. Macy, Steve Buscemi, Peter Stormare, Frances McDormand</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/17/fargo-1996/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CAST AWAY (2000)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/05/cast-away-2000/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/05/cast-away-2000/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 05:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2097</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah film drama besutan Robert Zemeckis yang membuat Tom Hanks dinominasikan sebagai <em>Best Actor in a Leading Role</em> pada <em>73rd Academy Awards</em> dan dianugrahi penghargaan <em>Best Performance by an Actor in a Motion Picture</em> pada <em>58th Golden Globe</em>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah film drama besutan Robert Zemeckis yang membuat Tom Hanks dinominasikan sebagai <em>Best Actor in a Leading Role</em> pada <em>73rd Academy Awards</em> dan dianugrahi penghargaan <em>Best Performance by an Actor in a Motion Picture</em> pada <em>58th Golden Globe Awards</em> untuk performanya yang hampir sempurna, <em>Cast Away,</em> <em> </em>dirilis  7 Desember 2000 di Amerika Serikat. Film ini merupakan tipe film  Hollywood berbudget besar yang setiap orang ekspektasikan dari aktor  sekelas Tom Hanks dan sutradara Robert Zemeckis. Terakhir kali Zemeckis  dan Hanks bekerja sama, terlahir tokoh legenda – Forrest Gump, seorang  idiot yang tentunya diperankan oleh Tom Hanks. <em>Forrest Gump </em>(1994) merupakan film drama sekaligus satir yang sangat baik saat itu, dan dijadikan standar ekspektasi untuk <em>Cast Away</em> agar Zemeckis dan Hanks mengulang keberhasilan yang sama.</p>
<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/Cast-Away-3-JOJ1F2GDKI-1024x768.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2107" title="Cast-Away-3-JOJ1F2GDKI-1024x768" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/Cast-Away-3-JOJ1F2GDKI-1024x768-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan latar belakang tahun 1995, Chuck Noland (Tom Hanks) adalah  seorang analis sistem di perusahaan Federal Express (Fed Ex) yang  terobsesi dengan waktu dan berkeliling dunia untuk menyelesaikan  permasalahan produktivitas perusahaan jasa kurir tersebut. Di awal film  digambarkan kegigihannya dalam mengantarkan paket-paket ke tempat tujuan  tepat waktu dengan latar Kota Moscow. Seselesai tugasnya di Russia,  Chuck menyempatkan makan malam dengan pacarnya, Kelly Frears (Helen  Hunt), juga dengan keluarga besarnya, sampai akhirnya panggilan tugas ke  Malaysia harus memisahkan mereka kembali. Di bandara, Chuck menjanjikan  Kelly untuk kembali saat perayaan malam tahun baru. Di sepanjang cerita  awal ini diperlihatkan kedekatan Chuck dan Kelly sebagai reservasi  inisiator emosi dalam cerita film, yang berujung pada pemberian <em>family heirloom</em> milik Kelly kepada Chuck berupa jam antik berisi foto Kelly warisan  kakeknya. Beberapa saat berselang, pesawat yang ditumpangi Chuck terbang  di atas lautan Pasifik Selatan dalam keadaan badai. Pesawat mengalami  gangguan, lalu tiba-tiba terjadi ledakan yang menyebabkan pesawat jatuh,  dan Chuck tenggelam di tengah puing-puing pesawat. Sebuah <em>life-raft</em> membawanya ke permukaan dan menghantarkannya ke sebuah pulau tropis,  sampai akhirnya dia mengetahui bahwa tidak ada penghuni satupun setelah  menjelajahi pulau tersebut. Beberapa paket FedEx terbawa ombak ke  pesisir pantai, begitu pula mayat salah satu pilot pesawat yang kemudian  dia kubur. Chuck membuat sinyal pertolongan dan sekali mencoba keluar  dari pulau tersebut menggunakan <em>life-raft</em> yang ada, namun hal  tersebut sia-sia karena terjangan ombak yang kuat. Menyadari dirinya  jauh dari peradaban, Chuck segera mencari makanan, air minum, membuat  tempat tinggal, dan membuka semua paket FedEx yang dia temukan, kecuali  satu paket dengan gambar sepasang sayap. Saat pertama kali membuat api,  Chuck terluka parah di tangannya, kekesalan pun dilampiaskan dengan  melempar beberapa barang, termasuk bola voli bermerk Wilson. Bekas darah  pada bola voli digunakan Chuck untuk menggambar muka, memberinya nama  Wilson dan mulai berbicara dengannya.</p>
<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/20110927_2536125.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2108" title="20110927_2536125" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/20110927_2536125-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Empat  tahun kemudian Chuck secara dramatis menjadi lebih kurus, berjenggot  lebat, rambutnya memanjang dan telah beradaptasi dengan keadaan, yang  terlihat saat berburu ikan dan membuat api. Chuck pun menjadi terbiasa  berbicara dan berargumen dengan Wilson, selain tentunya memandangi foto  Kelly sebagai satu-satunya barang paling berharga untuknya saat itu.  Ketika sebuah bagian besar dari toilet <em>portable </em>terseret ombak  ke pulau tersebut, Chuck mulai membangun rakit besar dan memanfaatkannya  sebagai sebuah layar. Setelah menghabiskan waktu untuk menentukan cuaca  yang optimal menggunakan analemma yang digambar di dalam gua, dia mulai  berlayar dan menggunakan layar untuk mengatasi terjangan ombak yang  besar. Beberapa saat di laut, badai yang ada membuat kapalnya rusak.  Hari berikutnya, Chuck kehilangan Wilson saat bola voli tersebut jatuh  ke laut. Sampai akhirnya sebuah perahu cargo yang melintas menemukannya  terkapar di rakit.</p>
<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/Cast_Away_4021_Medium.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2109" title="Cast_Away_4021_Medium" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/Cast_Away_4021_Medium-300x190.jpg" alt="" width="300" height="190" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Cast Away</em> terbagi menjadi tiga segmen yang jelas, pembangunan cerita, cerita  utama dan akhir cerita setelahnya. Walaupun fokus utama film berada di  75 menit penceritaan detail pengalaman Chuck saat terdampar dan bertahan  hidup, bagian akhir cerita justru menyuguhkan solusi yang tidak mudah  saat dihadapkan pada situasi sulit dimana setelah 4 tahun kabar  kehilangan dirinya, dengna memanfaatkan reservasi emosi yang disebutkan  sebelumnya, kemudian Chuck harus melanjutkan hidupnya setelah kehilangan  Kelly, yang meningkatkan film ini dari level menegangkan ke petualangan  inovatif hingga menjadi sebuah drama yang <em>sahih</em>.  Bagi  pencinta film drama mungkin bagian ini akan selalu membuat persediaan  tissue habis karena air mata. Namun akhir cerita tidak berujung  melankolis, satu paket yang Chuck pertahankan dari pulau dengan gambar  sepasang sayap menghantarkannya menuju harapan baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari  teknis sinematografi, Don Burgess cukup sukses membuat film ini menarik  secara visual &#8212; tidak aneh bila melihat film-film yang dibuatnya  seperti <em>Forrest Gump </em>(1994), <em>Richie Rich</em> (1994), <em>What Lies Beneath </em>(2000), <em>Spider-Man</em> (2002), <em>13 Going 30</em> (2004), dengan teknik sinema Hollywood menggunakan <em>crane</em>, <em>dolly</em> dan juga <em>glider</em> serta pemilihan framing yang pas film ini mampu memanjakan mata  penontonnya. Kecelakaan pesawat yang terjadi di setengah jam pertama pun  dieksekusi berbeda dari hampir semua kecelakaan udara yang pernah ada  di sebuah <em>motion picture</em>. Robert Zemeckis melakukan <em>digital effect</em>,  namun tidak memperlihatkan bagaimana tabrakan pesawat itu terjadi.  Penonton akan melihat gambaran di dalam pesawat, keadaan angin kencang  dan kekelaman ruangan yang menghasilkan ketegangan dan setting sesuai  keadaan sebenarnya. Hasil serupa diperlihatkan saat Chuck berusaha  menyelamatkan dirinya untuk mencapai permukaan laut dari pesawat yang  akan tenggelam. Adegan di pantai pun tidak monoton – seperti film <em>Six Days, Seven Nights</em> (1998) misalnya, dimana <em>Cast Away</em> justru lebih menonjolkan detail, menceritakan petualangan bertahan hidup Chuck <em>step-by-step</em>,  sampai ke hal-hal kecil seperti membuka buah kelapa ala MacGyver.  Robert Zemeckis tidak mencampur aduk cerita, hanya berfokus pada Chuck  di pulau tropis, tidak ada adegan “<em>back to Memphis</em>”, karena hal  tersebut dapat merusak flow penonton pastinya. Hampir lebih dari satu  jam, hanya suara alam sekitar serta sedikit dialog Chuck yang terdengar,  disini penulis naskah tidak harus bekerja keras membuat situasi yang  dramatis. Di 30 menit epilog film, saat dilema dimulai, Robert Zemeckis  dan William Broyles Jr. sebagai penulis cerita menghindari sesuatu yang  melodramatis, hal ini ditunjukkan dengan ketegasan karakter Chuck hingga  akhir cerita, tidak umum, namun hal ini berhasil membuat film sangat  dramatis.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/16442462.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2110" title="16442462" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/16442462-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, film ini sangat minim <em>scoring</em> dan dialog, gerak-gerik tokoh Chuck, menjadi roh film ini. Namun hal tersebut tidak lantas membuat <em>Cast Away</em> membosankan, karena akting laur biasa Tom Hanks sukses menghidupkan  karakter Chuck yang depresi dan kesepian, setengah gila lebih tepatnya.  Dia bisa memperlihatkan bagaimana perubahan Chuck yang semakin hari  semakin ahli bertahan hidup. Emosi-emosi yang dia tampilkan juga sangat  alamiah. Pantas bila film ini disebut sebagai <em>one man show</em> dari  Tom Hanks, selain itu didukung juga dengan bola voli Wilson. Empati  penonton akan timbul saat Wilson terseret arus, sebuah <em>chemistry</em> antara manusia dan benda mati. Terdengar aneh, namun hal itu terlihat  nyata berkat penampilan Tom Hanks. Perubahan fisik Tom Hanks pun menjadi  sorotan, karena Tom Hanks sampai menyewa <em>trainer</em> untuk menurunkan berat badannya secara drastis demi film ini. Sayangnya, akting <em>sahih</em> dan <em>workout</em> keras Tom Hanks belum cukup untuk mengalahkan Russel Crowe yang memenangi Oscar saat itu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/12973258.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2111" title="12973258" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/12973258-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai pemeran pendukung, Helen Hunt, yang pertama kali masuk ke dunia <em>motion picture</em> di film ini dibayang-bayangi kesuksesannya saat berakting di film <em>Mad About You</em> (1996) dimana membuahkan banyak penghargaan untuk dirinya. Meskipun  peran pentingnya dimulai di akhir 30 menit film, Helen Hunt berhasil  beraktingbaiksehingga film ini berakhir sangat dramatis. Alhasil,  dirinya memenangi penghargaan <em>Blockbuster Entertainment Award</em><em> for Favorite Supporting Actress – Drama </em>dan dinominasikan dalam <em>MTV Movie Award for Best Kiss</em><em> (shared with </em><em>Tom Hanks</em><em>),</em> LOL!. Menariknya, <em>Cast Away</em> merupakan film keempatnya dalam empat bulan, setelah <em>Dr. T and The Women</em> (2000), <em>Pay It Forward</em> (2000), dan <em>What Women Want</em> (2000), wow!.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir kata, konsep <em>one man show</em> yang diusung <em>Cast Away </em>dieksekusi sangat <em>sahih</em>,  baik dari segi cerita, naskah, sinematrografi, dan akting para pemain  di 143 menit film ini, sehingga resiko membosankan disulap menjadi  sesuatu yang sangat menarik, dan tentunya penampilan terbaik Tom Hanks  dalam film ini akan sulit dilupakan. Bagi pencinta film drama, mungkin  ini salah satu film yang wajib untuk ditonton.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Andrian Hadiana</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/05/cast-away-2000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DETACHMENT (2011)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/detachment-2011/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/detachment-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 09:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2083</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Film drama yang luar biasa, memilukan dan sangat penting untuk pendidikan, Detachment menjadi film yang sahih untuk disimak di hari pendidikan nasional. Gambaran ekstrim dari seorang guru pengganti di sebuah sekolah menengah yang dihadapkan pada sistem pendidikan yang&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Film drama yang luar biasa, memilukan dan sangat penting untuk pendidikan, Detachment menjadi film yang sahih untuk disimak di hari pendidikan nasional. Gambaran ekstrim dari seorang guru pengganti di sebuah sekolah menengah yang dihadapkan pada sistem pendidikan yang salah, dimana murid-murid tidak mau belajar dan orang tua tidak mau peduli. Detachment merupakan sebuah keberhasilan secara artistik untuk sutradara visioner seperti Tony Kaye, yang lebih dikenal dengan karya provokatifnya, American History X (1998), sebuah film brutal tentang neo-Nazisme di Los Angeles, yang mendapat banyak pujian dan membawa Edward Norton meraih Best Actor dalam Oscar. Detachment diputar pertama kali pada bulan April 2011 di Tribeca Film Festival, juga memenangi beberapa penghargaan di Deauville Film Festival dan Tokyo Film Festival, serta menjadi Closing Night Film di Woodstock Film Festival, tentunya Detachment menjadi film yang menarik untuk ditonton.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/Detachment-Poster1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2089" title="Detachment-Poster" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/Detachment-Poster1-206x300.jpg" alt="" width="206" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sangat sulit untuk mulai menerangkan kerumitan di film ini. Dengan cerita yang bukan berasal dari kisah nyata, juga karakter-karakter yang dijelaskan secara satu-dimensi, serta beberapa repetisi visualisasi masa lalu, Detachment melihat sisi gelap dari sebuah sekolah dalam kota di Queens, New York. Sistem sekolah umum yang bermasalah sering sekali diangkat di layar lebar, seperti Dangerous Mind (1995)misalnya. Namun dalam pandangan Tony Kaye, kelas dan lingkungannya menjadi suatu metafora untuk menjadikan tempat layaknya neraka.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/68983327.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2090" title="68983327" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/68983327-300x150.jpg" alt="" width="300" height="150" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Henry Barthes (Adrien Brody) digambarkan sebagai seseorang yang emosional karena kehilangan hak dan semangatnya, dan hidup sebagai guru pengganti. Saat film dibuka, Henry telah mengambil pekerjaan sementaranya di satu sekolah bermasalah dengan  murid-murid yang tidak memiliki keinginan untuk belajar dan setidaknya memikirkan masa depan mereka. Sampai akhirnya mereka berinteraksi dengan Henry dan dibawah pengawasannya seorang murid bahkan berkembang, Meredith (Betty Kaye, anak sutradara Tony Kaye), seorang gadis overweight yang selalu di-bully teman-teman sekelasnya dan diremehkan ayahnya. Berkat pengertian Henry, akhirnya Meredith menemukan bakatnya sebagai fotografer. Tidak hanya di film The Pianist (2002), Adrien Brody menunjukkan akting dengan banyak sequence juga dalam perannya di Detachment. Dengan menjalani pekerjaan di sekolah barunya, Henry pun memperhatikan keadaan sekitar, berkomentar dalam narasinya, juga sempat menjalin chemistry dengan teman kerjanya Ms. Madison (Christina Hendricks). Selain itu, tokoh Henry pun diceritakan melindungi seorang gadis prostitusi, Erica (Sami Gayle), yang dia temui di bus. Juga merawat kakeknya yang tengah sakit, Grampa (Louis Zorich), lansia penderita demensia. Keputusasaan pribadi Henry hanya dilalui dengan memberikan belas kasihnya kepada orang lain yang menderita.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/detachment02.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2091" title="detachment02" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/detachment02-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Semuanya berakhir saat Henry memutuskan mengunjungi Erica di sebuah institusi Guardian Angels Foster Care Facility, di mana mereka berpelukan dan meluapkan emosi karena sebelumnya mereka terpaksa berpisah. Kemudian Henry pergi ke sekolah dan membaca kutipan puisi dari buku The Fall of the House of Usher di dalam kelas yang tiba-tiba berubah menjadi ruangan yang terbengkalai.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/LRA_detachment_1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2092" title="LRA_detachment_1" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/LRA_detachment_1-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Naskah cerita yang dibuat oleh Carl Lund membuat semua penampilan yang ditunjukan sangat unik dan menonjol, bahkan sampai peran yang kecil sekalipun. Beberapa peran kecil tersebut misalnya, Principal Carol Dearden (Marcia Gay Harden), sebagai kepala sekolah dengan menduduki fungsi eksekutif tertinggi yang tidak merasa puas akan pekerjaannya karena terus menerus mempertanyakan identitasnya di sekolah dan terancam kehilangan jabatannya tersebut. Mr. Seaboldt (James Caan) sebagai guru veteran cool yang sebenarnya telah putus asa akan keadaan sekolah tersebut, namun melampiaskannya dengan tingkah laku anehnya yang penuh humor. Mr. Wiatt (Tim Blake Nelson) menjadi seorang instruktor yang lama-kelamaan menyadari ketidakberartian karirnya dan kehidupan keluarga yang juga tidak lebih baik. Erica (Sami Gayle) menggabungkan akting ketangguhan anak jalanan dan kerapuhan dirinya sebagai gadis prostitusi. Meredith (Betty Kaye) digambarkan sebagai gadis yang tidak bahagia yang menyalahartikan kebaikan gurunya, Henry. Menariknya hampir semua peran kecil ini mendapatkan porsi yang sesuai, sehingga penonton diberi ruang untuk berempati pada setiap tokoh dalam cerita ini. At this point, good job for Carl Lund!</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya sesuatu yang mengganjal merupakan masalah. Cerita yang dibangun di awal mencapai sesuatu yang nihil di akhir tanpa adanya tambahan cerita apapun. Meski demikian, berbanding terbalik dengan keadaan pembuka, dimana guru-guru asli berbicara langsung ke kamera tentang akhir karir mereka, dengan menggambarkan adegan akhir surealis dari kehancuran yang cukup berlebihan, Detachment menunjukan sesuatu yang sangat artistik dan tidak monoton di akhir ceritanya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/LRA_detachment_3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2093" title="LRA_detachment_3" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/LRA_detachment_3-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sejauh ini memang belum ada film yang mendekati sempurna, begitu pula halnya dengan Detachment.Secara visual, sutradara Tony Kaye, yang disayangkan merangkap sebagai D.O.P (Director of Photography), sangat bergantung pada shot close-up, sering menunjukkan gambar dengan point-of-view yang canggung menempatkan subjek di tengah-tengah frame, sehingga komposisi gambar terlalu sempit dan penuh. Selain itu penggunaan lensa dengan nilai apertur rendah dieksekusi kurang baik, terbukti dari beberapa gambar yang ada, gambar blur sering muncul disaat yang tidak tepat. Namun shot handheld yang digunakan dalam bagian documentary sangat mendukung akting Adrien Brody sebagai Henry.</p>
<p style="text-align: justify;">Detachment adalah film yang sangat original yang akan tetap melekat di ingatan penonton meski telah lama meninggalkan teater. Film ini mengubah animasi-coretan-tangan-papan-tulis menjadi tragedi-darah dan air mata. Tidak aneh bila Detachment menjadi salah satu film terbaik karena keunikan cerita dan akting sahih Adrien Brody.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Andrian Hadiana</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/detachment-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BATTELSHIP (2012)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/battelship-2012/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/battelship-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 01:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineklub LFM ITB</dc:creator>
				<category><![CDATA[Now Playing]]></category>
		<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2084</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Alex Hopper (Taylor Kitsch), adik dari Stone Hopper (Alexander Skarsgård) memiliki kehidupan yang sangat tidak teratur. Ketidakmampuan dirinya dalam mengurus berbagai urusan secara mandiri memaksa kakaknya untuk memasukkannya kedalam Angkatan Laut (US Navy).</p>
<p style="text-align:<p>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://www.filmofilia.com/wp-content/uploads/2012/02/battleship.jpg" alt="" width="600" height="383" /></p>
<p style="text-align: justify;">Alex Hopper (Taylor Kitsch), adik dari Stone Hopper (Alexander Skarsgård) memiliki kehidupan yang sangat tidak teratur. Ketidakmampuan dirinya dalam mengurus berbagai urusan secara mandiri memaksa kakaknya untuk memasukkannya kedalam Angkatan Laut (US Navy).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa tahun setelah dia masuk dan menjadi awak kapal senior dalam Angkatan Laut, dia masih sering melakukan kecerobohan-kecerobohan dan menunjukkan ketidakmampuan dalam mengontrol diri. Dalam pelatihan angkatan laut internasional yang dihadiri oleh negara2 maritim, termasuk Amerika Serikat, Alex tertangkap basah melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan dirinya terancam dikeluarkan dari angkatan laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum Pelatihan Angkatan Laut ini diadakan, dalam selisih waktu yang tidak lama, NASA menemukan sebuah planet di Galaksi G yang memiliki kemiripan dengan planet Bumi dalam berbagai hal. Jarak dari pusat tata suryanya, atmosfer yang terbentuk, dan berbagai hal lainnya yang mirip dengan bumi meyakinkan NASA bahwa ada kehidupan di seberang sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usahanya untuk mencari tau, NASA mengirimkan sinyal kepada planet tersebut. Dalam waktu yang tidak lama, 5 benda asing terlihat mendekati bumi. 5 benda asing itu terpantau mendekati Hawaii, tempat dimana stasiun pengirim sinyal berada, serta tempat dimana pelatihan Angkatan Laut diadakan. Dengan teknologi yang jauh lebih maju dari teknologi manusia (as always), mereka membuat <em>barrier</em> yang tidak sengaja mengurung 3 kapal <em>destroyer</em>, 2 milik A.S. &amp; 1 milik Jepang. Kapten ketiga kapal adalah Alex Hopper, Stone Hopper, dan Kapten Nagata (Tadanobu Asano) musuh bebuyutan Alex Hopper.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana ketiga kapten kapal ini dapat melawan invasi dari makhluk asing?</p>
<p style="text-align: justify;">Battleship adalah film yang terinspirasi dari permainan battleship yang dibuat oleh Hasbro sendiri. dalam film ini, ada adegan yang akan sangat mengingatkan kita pada permainan battleship, dan ternyata peperangan di laut dapat menggunakan taktik tersebut. Saya tersenyum saat melihat scene dimana Kapten Nagata memimpin perang permainan battleship ini. “<em>So that’s why the title is battleship”</em> J</p>
<p style="text-align: justify;">Film ini sangat menarik perhatian saya karena keunikannya. Menurut saya ini memberikan kesegaran baru dalam dunia perfilman sci-fi maupun action. Peperangan diatas air merupakan hal baru yang ditawarkan oleh film ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebanyakan film dengan efek visual yang menawan banyak mengesampingkan cerita, namun pada film ini, cerita yang diangkat cukup menarik dan tidak membosankan. Cerita “Navy” yang awalnya cukup asing buat saya ternyata disampaikan dengan sangat ringan dan mudah dipahami. Segala hal dijelaskan cukup kronologis sehingga tidak perlu menonton ulang dua kali untuk mencari cerita yang terlewat.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa review mengatakan bahwa jalan cerita biasa saja dan emosi tidak terasa. Tapi justru menurut saya hanya ada satu perasaan yang tidak bermain disini, romance yang tidak terlalu ditonjolkan. Menurut saya justru itu suatu kelebihan. Saya mencari film aksi yang membuat berdebar karena “greget” bukan karena hubungan antara sepasang manusia. Menanggapi yang jalan cerita biasa saja, memang cerita datangnya alien konvensional. Alien datang, alien menyerang, manusia kewalahan, manusia menemukan celah, manusia melawan balik. Tapi disamping cerita <em>alien invasion</em> itu banyak hal yang menarik seperti perubahan watak Alex Hopper, mengungkap apa yang dilakukan para alien, dan banyak lagi yang menarik tapi tidak bisa saya sebutkan karena akan jadi spoiler. Serta yang menarik adalah datangnya alien ini adalah karena gegabahnya manusia, tidak hanya sekedar datang seperti film lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek grafis visual dan audio yang diberikan sangat menarik. Mata kita akan diajak mengelilingi bagian-bagian kapal yang benar-benar ingin kita ketahui. DOP seolah tau apa yang ingin kita liat dan apa yang dapat memuaskan indra penglihatan kita. Suara kapal menghantam laut serta deburan ombak pada saat kapal melaju menjadi ketertarikan sendiri buat saya. Suara tembakan meriam dari kapal yang menggemakan ruang studio teater akan membuat kita berdebar. Emosi kita benar-benar dibawa oleh audio dan visual yang disajikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang menurut saya menjadi nilai negatif adalah karakter Raikes yang dibawakan oleh Rihanna. Bahkan mungkin kalau karakter ini ditiadakan, tidak akan ada hal yang berubah. Namun setelah saya berpikir, perasaan “tidak akan ada yang berubah” ini adalah akibat acting dari Rihanna sendiri yang tidak berkesan sama sekali. Mungkin jika diperankan oleh orang lain, tokoh ini bisa menjadi ‘sosok’ pada film ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda menyukai film perang atau film sci-fi serta membutuhkan sesuatu yang segar dari sekedar pertempuran robot tanpa akhir, Peter Berg menghadirkan film ini untuk kalian tonton. <strong>Ini adalah film yang akan membuat kalian berdebar saat karakter berdebar, kalian tertegun saat karakter tertegun, serta kalian emosi saat tokoh emosi.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>Chandra Goldie Aulia</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/battelship-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RESERVOIR DOGS (1992)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/reservoir-dogs-1992/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/reservoir-dogs-1992/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 01:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2074</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
</p><p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Film ber-<em>genre</em> <em>action-crime</em> debutan luar biasa dari seorang sutradara <em>sahih</em> asal Amerika, Quentin Tarantino, yang lebih dikenal dari beberapa film setelahnya seperti <a title="Pulp Fiction" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pulp_Fiction"><em>Pulp Fiction</em></a> (1994), <a title="Jackie Brown (film)"&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/f/f6/Reservoir_dogs_ver1.jpg/215px-Reservoir_dogs_ver1.jpg" alt="" width="215" height="313" /></p>
<p style="text-align: justify;">Film ber-<em>genre</em> <em>action-crime</em> debutan luar biasa dari seorang sutradara <em>sahih</em> asal Amerika, Quentin Tarantino, yang lebih dikenal dari beberapa film setelahnya seperti <a title="Pulp Fiction" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pulp_Fiction"><em>Pulp Fiction</em></a> (1994), <a title="Jackie Brown (film)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jackie_Brown_%28film%29"><em>Jackie Brown</em></a> (1997), <a title="Kill Bill" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kill_Bill"><em>Kill Bill</em></a> (2003, 2004), <a title="Death Proof" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Death_Proof"><em>Death Proof</em></a> (2007), and <a title="Inglourious Basterds" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Inglourious_Basterds"><em>Inglourious Basterds</em></a> (2009). <em>Reservoir Dogs</em>, yang dirilis pada tanggal 23 Oktober 1992, membungkus kekacauan berdarah dan dialog-dialog yang tajam ke dalam tema kesetiaan dan persahabatan. Meskipun tidak pernah diberi promosi banyak pada saat rilis, <em>Reservoir Dogs</em> cukup sukses di Amerika Serikat dengan <em>grossing</em> $ 2.832.029, yang membuat $ 1.200.000 anggarannya kembali. Film ini lebih sukses di Inggris, dengan <em>grossing</em> hampir £ 6,5 juta, dan mencapai popularitas yang lebih tinggi setelah keberhasilan film QuentinTarantino selanjutnya, <em>Pulp Fiction</em> (1994). Sekalipun menggunakan aktor kelas dua dan tidak sukses secara komersil namun film ini banyak dianggap pengamat sebagai salah satu film independen terbaik dan merupakan terobosan besar bagi perkembangan film independen selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2076" title="rs" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs1.jpg" alt="" width="571" height="261" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Adegan film ini dimulai dari sebuah percakapan santai oleh sekelompok orang berjas dan berdasi hitam di sebuah <em>coffee shop</em>. Sekelompok orang tersebut tidak lain adalah komplotan Joe Cabot yang akan merampok sebuah toko berlian. Mereka berdiskusi dengan lepas tentang lagu “Like a Virgin” milik Madonna. Tak terlihat ketegangan, gugup, atau kekhidmatan tersendiri sebelum mereka merampok. Keenam pria yang memakai jas menggunakan nama samaran seperti Mr.White (Harvey Keitel), Mr.Pink (Steve Buscemi), Mr.Blonde (Michael Madsen), Mr.Blue (Eddie Bunker), Mr.Orange (Tim Roth) dan Mr.Brown (Quentin Tarantino), sedangkan dua lainnya adalah gangster Joe Cabot (Lawrence Tierney) dan anaknya Nice Guy Eddie (Chris Penn). Adegan pembuka pun ditutup dengan enam orang pria berjas hitam dan dua orang boss mereka berjalan bersiap menjalankan misi.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://www.filmcritic.com/assets_c/2010/02/Reservoir-Dogs-thumb-560xauto-25264.gif" alt="" width="560" height="286" /></p>
<p style="text-align: justify;">Menariknya <em>Reservoir Dogs</em> justru terletak pada poin penting dari perampokkan yang terjadi, dan hebatnya, peristiwa perampokkan tersebut justru tidak digambarkan sama sekali. Penonton dibuat bertanya-tanya atau mungkin berimajinasi sendiri. Dibuka oleh adegan yang santai, tiba-tiba penonton dilempar menuju adegan<em> </em>yang 180 derajat berbeda dengan adegan pembuka dikala Mr. Orange dan Mr. White terjebak dalam situasi sulit di sebuah mobil. Mr. Orange mengalami pendarahan hebat di sekitar perut, bergelinjangan sambil berbicara tak karuan di jok mobil belakang. Sementara itu, Mr. White berusaha meredakan kepanikan. Sampai di situ penonton pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2077" title="rs 2" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs-2.jpg" alt="" width="571" height="261" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Alur inti selanjutnya dalam <em>Reservoir Dogs</em> akan berkutat pada konflik dan kecurigaan antara sesama komplotan Joe Cabot, melalui setting lokasi sebuah <em>warehouse</em> sebagai tempat pertemuan mereka di tengah pelarian, Quentin Tarantino menyuguhkan perdebatan sengit ditengah situasi kacau. Dimulai dari perdebatan Mr.White untuk tidak membawa Mr.Orange ke rumah sakit, yang berlanjut dengan hipotesis Mr. Pink yang menyimpulkan telah terjadi pengkhianatan dan penjebakkan, karena respon polisi yang cepat. Rasa saling curiga pun timbul antara Mr. Pink dan Mr.White dan  Mr. Orange yang sekarat, serta Mr.Blonde yang datang tiba-tiba dengan gelagat santai seolah semua berjalan mulus dan bertindak brutal saat perampokan terjadi dengan membunuh beberapa warga sipil di toko perhiasan setelah alarm telah dipicu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2078" title="rs 3" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs-3.jpg" alt="" width="571" height="263" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan anggota komplotan ini membuat konflik meninggi selama adegan film. Sampai akhirnya Mr.Blonde menunjukkan bahwa dirinya menangkap seorang perwira polisi, Marvin Nash (Kirk Baltz), untuk mendapatkan jawaban siapa pelaku dibalik gagalnya perampokan. Saat Mr.Blonde, Mr.White dan Mr.Pink tengah menyiksa dan menginterogasi Marvin Nash, Nice Guy Eddie datang meredakan situasi dan meminta Mr.Pink dan Mr.White untuk mengamankan berlian dan membuang mobil-mobil bajakan. Sementara itu, adegan psikopat ditunjukkan oleh Mr.Blonde yang ditinggalkan bersama Mr.Orange dan Marvin Nash, di adegan ini Mr Blonde melakukan tarian mengancam, mengiris wajah Marvin dengan pisau cukur dan memutuskan telinga kanannya. Namun sebelum Mr.Blonde membakar Nash dengan bensin, Mr.Orange yang tiba-tiba sadar membunuh Mr.Blonde, dan memberitahu Nash bahwa dia merupakan seorang polisi yang menyamar dan meyakinkan Nash Nash bahwa sekelompok polisi dalam jumlah banyak akan datang setelah Joe Cabot datang.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs-4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2079" title="rs 4" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs-4.jpg" alt="" width="571" height="267" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya cerita berfokus antara penyelesaian konflik dan mencari jawaban atas situasi perampokan yang berakhir kacau, diselingi latar belakang masing-masing tokoh dalam film, sehingga Quentin Tarantino mengajak penonton untuk ikut mencari siapa pengkhianat dalam perampokan tersebut. Sampai akhirnya diketahui jawabannya adalah Mr.Orange, yang kemudian cerita berlanjut pada latar belakang Mr.Orange sebagai polisi yang menyamar sebagai <em>drugs-dealer</em> untuk masuk ke komplotan Joe Cabot.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2080" title="rs5" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs5.jpg" alt="" width="571" height="262" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Bagian akhir dalam film menyuguhkan pertentangan akan tema kesetiaan dengan persahabatan, yang dihalangi dengan kedok identitas samaran komplotan pencuri tersebut, kecuali Eddie dan Joe Cabot. Eddie, Mr.Pink dan Mr.White yang kembali menemukan Mr.Blonde mati. Mr.Orange beralasan membunuhnya karena Mr.Blonde akan membunuh mereka semua dan membawa berlian untuk dirinya sendiri, namun Eddie menyangkal hal tersebut, karena Mr.Blonde merupakan teman dekatnya dan telah setia bekerja untuk ayahnya selama 4 tahun. Ketika Mr. Orange memperkuat alasan tindakannya, Joe datang dan memberitahu Mr.Blue mati, dan dengan yakin menuduh Mr.Orange sebagai informan polisi, di lain sisi Mr.White melindungi Mr.Orange sebagai temannya. Adegan saling tembak ala <em>Mexican Standoff</em> terjadi ketika Joe menembak Mr.Orange, berlanjut respon Mr.White menembak Joe dan membunuhnya, Eddie menembak Mr.White yang hanya membuatnya terluka, dan Mr. White kemudian menembak dan membunuh Eddie. Mr.Pink yang bersembunyi di bawah tangga dan menghindari <em>shootout</em> tersebut membawa pergi berlian dan kabur dari <em>warehouse</em>. Sesaat polisi datang, Mr.Orange memberitahu Mr.White hal sebenarnya, yang seketika menghancurkan Mr.White, yang mulai menangis dengan frustrasi dan menodongkan senjatanya di kepala Mr Orange. Polisi yang datang membuat adegan gantung akan kematian Mr.Orange dan Mr.White di film ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs5.jpg"></a><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2081" title="rs7" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/05/rs7.jpg" alt="" width="571" height="247" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pada film <em>Pulp Fiction</em> (1994) dan  <em>Inglourious Basterds</em> (2009), Quentin Tarantino menggunakan dialog yang tajam disertai istilah-istilah kasar khas Amerika, yang menjadi salah satu kekurangan film ini sehingga menyebabkan beberapa orang <em>walked out</em> saat pemutarannya. Meskipun demikian dari dialog tajam tersebut, Quentin Tarantino sukses menciptakan suasana dan membangun karakter tokoh-tokoh dalam filmnya. Apalagi didukung oleh akting yang <em>sahih</em> dari aktor-aktornya, terutama Michael Madsen dan Tim Roth. Selain didukung oleh setting tempat, pengambilan gambar yang sekali-kali bergoyang dan terkesan sembarangan dengan menyorot badan atau tembok, justru semakin menguatkan suasana. Dalam film debutnya ini, Tarantino telah menggunakan beberapa keunikan yang menjadi trademark di film-film selanjutnya. Tarantino menggunakan pola non-linier dengan memotong kisah utamanya dengan menyisipkan tiga kisah pendek, yakni “Mr. White”, “Mr. Blonde”, dan “Mr. Orange”. Masing-masing kisah pendek tersebut memperlihatkan latar belakang tokoh yang bersangkutan. Uniknya dalam masing-masing kisah tersebut juga memperlihatkan beberapa penggal kejadian setelah aksi perampokan terjadi. Walaupun dengan durasi waktu cerita yang pendek, lokasi cerita terbatas, serta pelaku cerita yang berjumlah banyak dimana masing-masing tokoh memiliki karakter yang unik, namun Tarantino secara efektif masih mampu mengemas cerita dengan gayanya yang khas dengan memberikan kejutan-kejutan di luar ekspektasi penonton. Aspek sangat nyata dari <em>Reservoir Dogs</em> adalah bagaimana Tarantino memanfaatkan semua teknik sinematografi yang dia impikan saat masih bekerja di toko video. Semua teknik dari shot <em>hand-held</em>, shot ekstrim jarak dekat, dan <em>panning</em> jauh dengan sugesti bahwa “bahkan kamera tidak tahan untuk menonton apa yang terjadi” menjadi sesuatu yang menarik untuk ditampilkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir review, meski tidak sehebat <em>Pulp Fiction</em>, <em>Reservoir Dogs</em> merupakan film <em>action-crime</em> gaya baru dengan dialog tajam, kemampuan akting <em>sahih</em> para pemerannya, serta teknik sinematrografi lengkap yang menginspirasi puluhan film lainnya termasuk juga film-film Tarantino sendiri. Tentunya film berdurasi 99 menit ini wajib untuk ditonton, apalagi untuk penggemar sutradara Quentin Tarantino.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Andrian Hadiana</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/05/02/reservoir-dogs-1992/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WE BOUGHT A ZOO (2011)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/18/we-bought-a-zoo-2011-2/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/18/we-bought-a-zoo-2011-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 02:05:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>heyifa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2056</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: center"></p>
<p>Dari pertama mendengar judulnya saja, saya sudah sangat tertarik dengan film ini. Apalagi ada Matt Damon, Scarlett Johansson dan si cantik Elle Fanning. Sepertinya film ini sangat menjanjikan. Makanya saya langsung menonton film begitu selesai mendownload filmnya.&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img class="aligncenter" src="http://thoughtsonfilms.files.wordpress.com/2012/01/we-bought-a-zoo.jpg" alt="" width="440" height="651" /></p>
<p>Dari pertama mendengar judulnya saja, saya sudah sangat tertarik dengan film ini. Apalagi ada Matt Damon, Scarlett Johansson dan si cantik Elle Fanning. Sepertinya film ini sangat menjanjikan. Makanya saya langsung menonton film begitu selesai mendownload filmnya.</p>
<p>Benjamin Mee (Matt Damon) baru saja kehilangan istrinya yang meninggal karena sakit. Setelah anaknya, Dylan (Colin Ford), dikeluarkan dari sekolahnya, dia berusaha mencari suasana baru dan membeli rumah baru di pedesaan, bersama kebun binatang seluas 18 hektar. Benjamin bekerja keras menyelamatkan kebun binatang ini dari kebangkrutan, sambil berusaha melupakan istrinya dan memperbaiki hubungannya dengan Dylan.</p>
<p>Film ini ternyata diangkat dari kisah nyata Benjamin Mee, seorang jurnalis dari Inggris, yang memang membeli kebun binatang dan kehilangan istrinya. Walaupun dalam kenyataan Benjamin membeli kebun binatang terlebih dahulu baru kehilangan istrinya, dan tentu saja tidak ada zookeeper cantik seperti Kelly (Scarlett Johansson) yang membantunya. Cerita nyatanya juga amat menarik, bisa dibaca di <a title="sini" href="http://www.telegraph.co.uk/culture/film/9108388/We-Bought-a-Zoo-the-true-story-behind-the-film.html" target="_blank">sini</a> kalau tertarik.</p>
<p>Awalnya entah kenapa saya mengira film ini sejenis komedi romantis, tapi ternyata film ini film keluarga. Ada sih romantisnya, tapi malah dari cerita Dylan dan Lily (Elle Fanning), sepupu Kelly yang membantu di kebun binatang, yang lucu sekali. Tapi, mostly, film ini tentang&#8230; moving on. Sebagian besar film ini menceritakan Benjamin yang tidak bisa berhenti mengingat istrinya. Mulai dari kafe tempat mereka pertama kali bertemu, sweater yang sering istrinya pakai, sampai foto-foto mereka, semua hal ini mengingatkan Benjamin pada istrinya. Dia membeli kebun binatang pun salah satu usahanya untuk melupakan istrinya. Terdengar galau ya? Hehehe. Tapi tenang aja, film ini jauh dari kata galau (yah walaupun saya nangis saat Benjamin menceritakan istrinya ke Kelly).</p>
<p>Film ini memang tidak luar biasa secara sinematografi, juga tidak memiliki alur cerita yang mengagetkan penonton. Film ini bisa dibilang biasa saja, <em>hanya</em> menceritakan kebangkitan seseorang dari keterpurukan hidup a la Hollywood. Namun, saat menontonnya, meminjam istilah teman saya, terasa hangat di hati. Terutama sih saya ingin memuji Matt Damon karena berhasil memerankan Benjamin yang meninggalkan bekas yang lumayan dalam di hati saya. Matt Damon membuat saya tertawa dan menangis bersama Benjamin, atau ikut frustasi bersamanya saat dia kehabisan uang untuk menyokong kebun binatang yang baru dia beli. Di samping itu, yah rasanya menarik melihat cerita seseorang yang memelihara jaguar dan beruang grizzly di belakang rumahnya.</p>
<p style="text-align: center"><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/we_bought_a_zoo_entrance_a_l.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2064" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/we_bought_a_zoo_entrance_a_l.jpg" alt="" width="452" height="254" /></a></p>
<p>Satu lagi yang patut digarisbawahi adalah soundtrack film ini dibuat oleh Jonsi Birgisson, vokalis Sigur Ros, menambah kesan hangat di hati saat mendengarkan Hoppipolla sambil menonton pembukaan Roosemore Wildlife Park, kebun binatang di film ini. Lagu Gathering Stories, soundtrack film ini, juga termasuk ke dalam shortlist untuk nominasi Oscar.</p>
<p>Karena film ini film keluarga, jadi cocok lah ditonton saat weekend sambil santai-santai di rumah. Buat yang kangen mengunjungi kebun binatang, film ini bisa membawa kamu ke kebun binatang tanpa kamu harus mengunjunginya. Selamat menonton!</p>
<p style="text-align: right"><strong>Sayyida Lathifa</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/18/we-bought-a-zoo-2011-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OPERA JAWA (2006)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/07/opera-jawa-2006/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/07/opera-jawa-2006/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 09:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineklub LFM ITB</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2058</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sutradara: Garin Nugroho.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Saya menyimpan film ini sejak lama. Bersembunyi di <em>harddisk</em> eksternal saya, menggoda, merayu saya untuk menontonnya, namun saya enggan. Sebut saja, takut, karena “kata orang-orang” (ya, saya berekspektasi karena ini)&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sutradara: Garin Nugroho.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/09/118341-b-opera-jawa1.jpg?w=225&amp;h=300" alt="" width="225" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya menyimpan film ini sejak lama. Bersembunyi di <em>harddisk</em> eksternal saya, menggoda, merayu saya untuk menontonnya, namun saya enggan. Sebut saja, takut, karena “kata orang-orang” (ya, saya berekspektasi karena ini) film ini adalah bukanlah film yang disukai oleh semua orang. Kata mereka, “berat”. Namun akhirnya saya menontonnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Buruk bagi saya untuk berekspektasi dalam menonton sebuah film, tapi memang benar, <strong>“Opera Jawa”</strong> memang penuh dengan metafora yang mengundang tanya, sekaligus menyajikan <em>feast</em> bagi mata saya, sesuai ekspektasi saya. <strong>Garin Nugroho</strong> selaku sang penulis sekaligus sutradara, menyajikan sebuah tayangan yang menggabungkan segala unsur dalam budaya Jawa: lagu Jawa yang diiringi dengan gamelan, wayang kulit, serta tarian tradisional, semua dalam adaptasi cerita <strong>“Rama dan Shinta”</strong> Hindu kuno. Sepanjang film kita akan disajikan dengan aroma Jawa yang kental, bebas, serta detail yang menggambarkan kelamnya ide Garin Nugroho. Saya mencoba jujur di sini: film ini memerlukan perhatian ekstra dan mencoba berpikir <em>out of the box</em> dalam mengartikan metafora yang disajikan, tidak lupa menyebutkan bahwa film ini adalah sebuah adaptasi versi kelam dari cerita “Rama dan Shinta” yang sudah kelam.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia pada masa krisis. <strong>Siti</strong> (diperankan <strong>Artika Sari Devi</strong>) adalah seorang penari yang telah meninggalkan dunia pertarian dan menikah dengan suaminya, <strong>Setio</strong> (diperankan oleh <strong>Martinus Miroto</strong>) yang juga seorang mantan penari, sekarang menjalani kehidupan sebagai pembuat barang tembikar. Sudah sebuah tradisi bahwa ketika penari Jawa menikah, Ia harus berhenti menari dan menjalani kehidupan bersama suaminya. Pada suatu ketika, Setio pergi dalam sebuah perjalanan bisnis meninggalkan Siti, dan kesempatan pun diambil oleh <strong>Ludiro</strong> (diperankan oleh <strong>Eko Supriyanto</strong>), seorang tukang daging sukses yang juga merupakan seorang penguasa bisnis desa, dalam mendekati Siti. Gejolak internal pun dialami oleh Siti. Pesona Ludiro terhadap Siti begitu kuat, dan seiring dengan waktu, Siti pun merasakan rasa yang telah lama Ia tidak rasakan jika bersama dengan Setio. Siti menginginkan sesuatu yang baru. Siti menginginkan kepuasan. Dihantui oleh rasa bersalah serta hasrat yang meluap, Siti pun merindukan rasa kebebasannya untuk bisa bebas dari bosannya kehidupannya sekarang. Siti terperangkap dalam konflik batin yang semakin lama semakin mendaki, memuncak di antara kesetiaannya terhadap suaminya dan ketertarikan oleh kuatnya pesona Ludiro.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://www.nwasianweekly.com/old/2008270014/images/Opera.jpg" alt="" width="400" height="266" /></p>
<p style="text-align: justify;">Secara <em>audio</em> dan <em>visual</em> memang Opera Jawa sangat memanjakan diri. Dialog pun serasa tidak dibutuhkan karena telah tertutupi oleh penyajian ceritanya. Adaptasi dari cerita Hindu ini memakai banyak sekali metafora yang diambil dari tradisi Jawa kuno, ataupun metafora yang “melintas budaya” untuk melupakan bahwa cerita ini adalah adaptasi dari cerita Hindu. Gamelan yang begitu membangun suasana, setting yang luar biasa “Jawa”, serta banyak pemanis seperti penjelmaan menyerupai <em>centipede</em> dari manusia, labirin yang terbuat dari batok kelapa dan kain merah yang panjang membentang melintas alam –semua ini merupakan usaha yang sangat “wow” untuk mewujudkan Opera Jawa menjadi sebuah film yang nyeni – dan entahlah, juga berlebihan.  Walau, menurut saya, <em>subplot</em> dalam film ini yaitu masa perang  menjadi kurang tersampaikan karena terlalu mengedepankan metafora (sekali lagi, metafora!). Dari sisi penghargaan, Opera Jawa pun telah memenangkan <em>silver screen award</em> untuk best film di <em>Singapore International Film Festival</em> 2007,  ternominasikan sebagai <em>best feature film</em> di <em>Asia Pacific Screen Awards</em> 2007, serta berbagai macam penghargaan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menarik kesimpulan bahwa film ini bukan bagi orang yang tidak dalam mood untuk cenderung ber-<em>pretensi</em>, maksud saya, ketika tidak terlalu suka dengan jenis penyajian ini maka akan mencari hal yang menurutnya bisa dijadikan pembelaan untuk mengatakan bahwa film ini bagus. Tidak dapat dipungkiri bahwa visual di sini sangat <em>stunning</em>, terasa sekali suasana serta apapun-yang-bisa-memanjakan-mata dapat men<em>drop</em> kan <em>jaw</em> kita. Opera Jawa tidak seperti sesuatu yang pernah Anda lihat sebelumnya. Opera Jawa akan menyedot kita dalam candunya budaya Jawa, baik tradisional ataupun kontemporer, dan membawa kita kepada suatu tempat yang tidak kita kenal, sesuatu yang baru.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Adhi Wibowo Prakoso</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/07/opera-jawa-2006/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HI5TERIA (2012)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/07/hi5teria-2012/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/07/hi5teria-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 01:59:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kineklub LFM ITB</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Movie Review]]></category>
		<category><![CDATA[Now Playing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2051</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di tengah merajalelanya film–film dalam negeri berkedok film horor yang memenuhi bioskop–bioskop Indonesia, seperti halnya pocong, kuntilanak dan hantu lokal lainnya yang justru dijadikan sebagai lelucon yang konyol untuk menutupi adegan–adegan semi porno,<em>Hi5teria</em> hadir sedikit berbeda. Dengan demikian,&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di tengah merajalelanya film–film dalam negeri berkedok film horor yang memenuhi bioskop–bioskop Indonesia, seperti halnya pocong, kuntilanak dan hantu lokal lainnya yang justru dijadikan sebagai lelucon yang konyol untuk menutupi adegan–adegan semi porno,<em>Hi5teria</em> hadir sedikit berbeda. Dengan demikian, ikut mengurangi dampak terbesar akan maraknya film–film sampah berkedok horor tersebut, yaitu hilangnya kepercayaan penonton saat munculnya film–film yang benar–benar membawa semangat horor yang sebenarnya, sehingga banyak juga sineas yang mungkin urung membuat film horor yang berkualitas. <em>Hi5teria</em> digarap 5 sutradara muda berbakat, Adrianto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah melalui seleksi ketat untuk menghadirkan 5 kisah pendek horor histeris. Hi5teria atau histeria <em>(Hysteria)</em><em> berasal dari bahasa latin </em><em>hysteric/hystericus</em><em> yang berarti suatu perilaku yang menunjukan emosi yang tidak terkontrol seperti ketakutan atau kepanikan, dimana f</em>ilm ini memiliki konsep omnibus (beberapa film pendek dimuat dalam satu film panjang) yang sudah familiar di Indonesia sejak kemunculan <em>Takut: Faces of Fear</em>(2008) yang menghadirkan 7 sutradara Indonesia yang menggarap 6 kisah berbeda ber-<em>genre</em> <em>horor/</em><em>thriller</em>. Tahun lalu bahkan juga telah ada <em>Fisfic 6 Vol. 1 </em>(<em>Fantastic Indonesian Short Film Competition</em>) yang juga menghadirkan 5 film pendek ber-<em>genre</em> <em>fantastic</em> dari sutradara muda pendatang baru yang terpilih dalam kompetisi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m208iwUyx21qkr0s7.jpg" alt="" width="490" height="693" /></p>
<p style="text-align: justify;">Otak dari pembuatan <em>Hi5teria</em> ialah Upi Avianto yang juga dikenal sebagai sutradara film–film sukses dalam negeri seperti <em>30 Hari Mencari Cinta</em> (2004) dan <em>Radit &amp; Jani</em> (2008), yang berperan sebagai produser dalam film ini. Upi mengajak lima orang sineas muda untuk bergabung dalam proyeknya bersama rumah produksi<em> Starvision</em>. Hi5teria mengusung <em>ending</em> histeris dari setiap karakter utama untuk menyatukan filmnya, selain itu diperkuat dengan karakter utama yang hampir seluruhnya wanita. Namun, tidak semuanya digarap secara maksimal, entah pengaruh jam terbang yang masih rendah atau terbenturnya naskah dengan durasi yang singkat, tapi bagaimanapun harus diakui masing-masing sutradara mempunyai ide cerita yang bagus bahkan hampir semuanya menyelipkan cita rasa dan budaya Indonesia di dalamnya, mulai dari sekedar cerita rakyat tentang hutan angker, pertunjukan wayang kulit, kepercayaan malam satu suro sampai pemilihan hantu kepala terbang lengkap dengan <em>twist ending</em> masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m208mvSkWs1qkr0s7.jpg" alt="" width="448" height="297" /></p>
<p style="text-align: justify;">Hi5teria dibuka dengan film pertama karya Adriyanto Dewo berjudul <em>Pasar Setan</em>.  Film ini menghadirkan ketakutan terbesar yang harus dihadapi oleh hampir semua pendaki gunung yaitu tersesat di tengah hutan belantara. Diceritakan Sari (Tara Basro) seorang wanita yang sedang tersesat dihutan karena mencari kekasihnya Jaka (Egy Fedly), bertemu dengan seorang pria pendaki gunung yang juga tersesat bernama Zul (Dion Wiyoko). Zul mencoba membantu Sari menelusuri hutan tersebut sampai tanpa sadar mereka ternyata hanya berputar-putar ditempat yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai sebuah ‘hidangan pembuka’, jujur film ini masih terasa kurang menunjukan ke-<em>sahih</em>-annya. <em>Pasar Setan</em> terlalu lambat menjabarkan tentang pencarian Sari dan tersesatnya Zul yang seharusnya bisa dibuat lebih ringkas lagi. Penjabaran seperti ini sebenarnya diperlukan untuk film panjang, tetapi untuk film pendek dengan durasi yang sangat singkat, hal ini membuat <em>Pasar Setan</em>justru kekurangan durasi untuk sekedar memberikan teror atau kengerian untuk penontonnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Capturing</em> dari lokasi hutan yang menjadi lokasi utama film ini dilakukan dengan cukup baik dan juga diiringi sinematografi indah. Sayangnya pemilihan setting waktunya yang terjadi pada siang hari dan dengan kondisi hutan yang terlalu terang malah justru semakin mengurangi suasana horor dari film ini. Tetapi masalah terbesar justru adalah dari judulnya sendiri. Film ini lebih berfokus pada pencarian dan justru mengesampingkan judul dari filmnya sendiri karena kurang dieksplorasi. Ekspektasi penonton mungkin akan berbeda bila judul dari film tersebut bukan <em>Pasar Setan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada sesuatu yang mencengangkan dalam film ini bahkan <em>ending</em>-nya pun sudah terbaca sejak pertengahan film. Akhirnya selama 14 menit keberjalanan film, penonton hanya bisa menikmati sinematografi yang indah serta baiknya performa akting Tara Basro yang juga bermain di <em>Catatan Harian Si Boy</em> (2011). Poin plus juga diberikan untuk <em>Director of Photography</em> yang telah memberikan komposisi gambar<em> landscape</em> yang indah dan <em>Art Director</em> yang pemilihan kostumnya sangat tepat untuk menggambarkan <em>setting</em> waktu kejadian dalam film ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m208n9D8O01qkr0s7.jpg" alt="" width="448" height="301" /></p>
<p style="text-align: justify;">Film kedua berlajut dengan <em>Wajang Koelit</em>. Film ini mengisahkan tentang Nicole (Maya Otos) jurnalis asing yang sedang melakukan riset tentang wayang kulit di daerah Jawa Tengah, menyaksikan pertunjukkan ini atas arahan seorang lelaki yang berlaku sebagai <em>tour guide</em>. Usai pertunjukkan, Nicole memotret layar wayang kulit lalu menemukan sosok perempuan cantik bernama Muni (Sigi Wimala) yang selalu menghindar ketika didekati. Muni pun kabur namun tak sengaja menjatuhkan hiasan di sanggulnya. Nicole pun mengambil hiasan itu dan mimpi buruk pun dimulai. Entah bagaimana, namun sosok bayangan perempuan terlihat dan membuat Nicole cemas. Sampai akhirnya dia harus menerima nasib sial karena dijadikan ‘bahan’ sebagai wayang kulit.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai satu-satunya film dalam Hi5teria yang menampilkan unsur etnik kebudayaan Indonesia yang paling kental, Chairun Nisa termasuk berhasil mengemas <em>Wajang Koelit</em> menjadi tayangan yang menyeramkan sayangnya durasi 24 menit membuat film ini terasa terburu – buru sehingga tidak diberi ruang untuk mengenal dan berempati pada tokoh Nicole. Penjabaran filosofis dan sejarah <em>Wajang Koelit</em> pun jadi kabur karena tidak ada penerangan sama sekali dalam film, bahkan dalam dialog antar pemainnya sehingga penonton akan merasa kurang masuk ke dalam ceritanya. Tetapi semua kekurangan tersebut terobati dengan eksekusi yang baik sepanjang film secara teknis dan juga kualitas akting. Memasuki bagian puncaknya <em>Wajang Koelit</em> menghadirkan sajian yang mencekam apalagi bagian penampakan yang meskipun hanya siluet tetapi dibantu <em>scoring</em> <em>sahih</em> membuat ketakutan menjadi hidup. <em>Wajang Koelit</em> sebenarnya diuntungkan dengan isu yang begitu dekat dengan kultur masyarakat Indonesia dengan klenik yang bisa dengan mudah menghadirkan horor. Pertunjukan wayang, musik gamelan, nyanyian <em>‘nembang’</em> Jawa, semua sudah merupakan paket lengkap untuk membangkitkan bulu kuduk penonton yang berhasil dibagun oleh sutradara Chairun Nissa dengan baik, walaupun penyelesaian kisahnya masih terasa mudah untuk ditebak.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m208nmkqga1qkr0s7.jpg" alt="" width="448" height="301" /></p>
<p style="text-align: justify;">Film selanjutnya adalah <em>Kotak Musik</em> karya Billy Christian. Film ini menceritakan seorang dosen, Farah (Luna Maya),  yang menerbitkan sebuah buku terkenal yang kalau tidak salah berjudul “There’s No Ghost”. Dia menerangkan di kelasnya bahwa makhluk halus itu tidak ada, dan hanya tergambar sebagai ilusi dari hal-hal yang masing-masing orang yakini. Sebelumnya Farah berburu hantu dengan peralatan elektronik yang lebih mirip voltmeter dan stabilizer dengan mahasiswannya. Di sana dia bisa melihat setan ibu-ibu gendut yang bikin sebagian penonton cukup ketakutan. Farah digambarkan sebagai akademis sekaligus perempuan metropolitan yang menganut seks bebas. Dalam suatu adegan dia bertanya pada mahasiswanya Teddy (Kriss Hatta) yang masih tinggal di apartemennya sendiri, “Mau kemana?”. Dan adegan pun tiba-tiba beralih pada keduanya saat selesai melakukan adegan ranjang. Tentu saja dengan Luna Maya yang masih mengenakan kaus dan Teddy yang dadanya ditutupi selimut. Luna Maya sepertinya ingin lebih memperkuat ‘citra’ dirinya dari adegan ‘binal’ yang membuat: <em>saya tertawa puas sampai ingin menjilat-jilat karpet bioskop</em>. Dan selebihnya kekonyolan yang diperlihatkan tanpa ampun saat hantu anak kecil itu dengan kaku dan berkata “Main yuk, Kak”. Ditambah lagi ada adegan “inovasi” berupa gerakan hantu anak kecil ini merangkak sambil mundur. <em>MOONWALK TIME! PERFECT! LOL!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ada dua pilihan untuk mengeksplorasi <em>Kotak Musik.</em> Pertama, menjadi sebuah sajian horor dengan unsur komedi yang satir, atau menjadi sajian horor murni yang menampilkan banyak hantu untuk membuat karakternya percaya. Tetapi sepertinya Billy Christian memilih eksplorasi yang kedua, walaupun tidak sepenuhnya. Kondisi psikologis Farah yang sinis dan mencerminkan masyarakat modern penjunjung <em>science</em> diperankan oleh Luna Maya dengan baik. Dari sekian banyaknya momentum horor yang sangat berpotensi untuk dimunculkan dalam film ini, tidak ada satupun yang mampu dimanfaatkan dengan baik. Beberapa kisah seperti misteri petugas <em>cleaning service</em> di apartemen Farah, serta beberapa adegan seperti adegan di lift, tangga darurat, dan hantu anak yang meneror dengan cara mengajak bermain terasa sebagai <em>typical moment</em> film horor, begitu juga dengan <em>twist</em> yang juga sudah sangat sering dimunculkan di film horor lainnya. Kekurangan juga ada di bagian <em>make-up-artist</em> yang kurang baik menampilkan sosok hantu anak kecil juga hantu Farah di film ini. Mungkin referensi hantu anak kecil seperti Regan MacNeil (Linda Blair) di film <em>The Exorcist</em> (1973) akan lebih menyeramkan. Lagi-lagi film ini juga mengesampingkan judul filmnya sendiri, <em>Kotak Musik</em>, yang justru tidak lebih baik dari judul aslinya, <em>Keyakinan Farah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m208oc8aiN1qkr0s7.jpg" alt="" width="448" height="301" /></p>
<p style="text-align: justify;">Film keempat berjudul <em>Palasik</em> karya Nicholas Yudifar. Masyarakat Kalimantan memberi nama kuyang, di Bali lebih dikenal sebagai <em>leak,</em>sedangakan suku Minang menyebutnya Palasik atau Pelesit yang kesemuanya merupakan sebutan untuk manusia-manusia dengan ilmu hitam tingkat tinggi yang mampu memisahkan kepalanya dengan tubuhnya kemudian terbang mencari mangsa ibu-ibu hamil. Film dimulai dengan liburan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah (Adrian Aliman), Anak (Poppy Sovia), dan Ibu tirinya (Imelda Therine) harus berakhir tragis akibat teror palasik. <em>Palasik</em> mengambil <em>setting</em> suatu tempat di Padang, namun terlihat seperti villa yang digunakan di film <em>Rumah Dara</em> (2010), namun Nicholas cukup baik mewakilkan setting Padang tersebut hanya dengan panggilan Uda kepada karakter Ayah. Dari akting para pemerannya, selain Imelda Therine yang berakting sangat baik, Poppy Sofia yang berperan sebagai anak tiri dari Imelda Therine juga berhasil mencuri perhatian dengan sikap cuek dan <em>tomboy</em> yang sinis terhadap karakter Ibu tiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya<em> Palasik</em> menghadirkan kisah dan <em>twist</em> yang cukup menarik. Durasi 21 menit mungkin membuat <em>Palasik</em> kurang terasa mencekam dan kurang mulus karena dirasa terburu-buru dan ditampilkan saat momen yang kurang tepat. Tidak ada<em> ending</em> yang memuaskan dalam Palasik, <em>twist</em> mudah sekali ditebak ketika karakter Anak ternyata istri dari palasik. Berputarnya kepala Poppy Sofia sampai 180 derajat pun kurang mengagetkan karena sudah ditampilakn di trailer resmi <em>Hi5teria</em>. Ditambah penampakan palasik yang<em>editing-</em>nya merupakan musibah terbesar film ini. Juga ada dialog hasil <em>dubbing</em> demi update film yang diucapkan Poppy meledek Imelda dengan “Hari gini percaya setan? Tahun 2012 gitu, lho”. Seakan-akan dialog aslinya adalah “Tahun 2011 gitu, lho”. Mengingat film ini direncanakan tayang di tahun 2011 dalam skala bioskop yang tayang pertama kali di INAFF.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m208oo5Xgo1qkr0s7.jpg" alt="" width="448" height="301" /></p>
<p style="text-align: justify;">Hi5teria ditutup oleh film <em>Loket</em> karya Harvan Agustriansyah. Mengisahkan tentang seorang wanita penjaga loket parkir di sebuah gendung (Ichi Nuraini) yang kemudian diteror oleh hantu wanita misterius (Bella Esperance). Sebagai “hidangan penutup” <em>Loket</em> awalnya tampil sangat menjanjikan. Dengan setting gedung parkir yang sepi dan dengan hanya ditemani oleh beberapa mobil yang terparikir, cukup menggambarkan penjaga loket ini terjebak di dalam gedung parkir tersebut. Pemunculan sosok hantu yang berwajah angker pun membuat ketakutan tersendiri. Settingnya hanya berputar-putar di sebuah tempat parkir basement, penjaga loket parkir menemukan kejadian aneh karena dihantui seorang perempuan mengerikan. Dia pun kemudian melihat gambaran dirinya sendiri yang sedang berdialog dengan seorang lelaki pekerja lain. Penonton pun bingung dan berharap mendapat jawaban. Sampai akhirnya kita tahu bahwa penjaga loket parkir sedang melihat kilas balik perbuatannya dahulu, yang membunuh si perempuan kaya untuk melucuti perhiasan dan uang dari sosok yang dibunuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kharisma Ichi Nuraini yang seingat saya belum pernah mendapatkan porsi besar dalam berakting bisa menjadi <em>surprise</em>, Ichi mampu memberi mimik wajah dan gestur yang baik untuk tokoh yang diperankan. Bella Esperance seperti biasa juga menghadirkan performa akting terbaiknya dan tampil menyeramkan. Selain dari segi cerita dan akting pemain, <em>Loket</em> juga unggul secara teknis dan sinematografi, dengan <em>slider</em> untuk kamera yang sering digunakan dan <em>framing</em> gambar yang sangat baik.Tidak hanya settingnya yang minim, namun<em>Loket</em> juga hanya mempunyai 3 karakter dari awal hingga akhir. Harvan Agustriansyah sang sutradara, tahu benar bagaimana harus membungkus premis sederhananya dan durasinya yang hanya 18 menit dengan kekuatan horor yang terjaga kuat. Membuat penontonnya penasaran menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya hingga kemudian Harvan membuat semuanya sia-sia dengan sebuah <em>ending</em> yang seharusnya dipotong saat tahap <em>editing</em>. Bertengkar sesama hantu, di akhir film, sungguh membuat dahi mengerut.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara  keseluruhan, Hi5teria memang harus diakui masih jauh dari sempurna untuk sebuah film horor. Film ini belum berhasil menularkan histeria ke penonton filmnya. Tapi film ini patut diapresiasi, karena telah menjadi batu loncatan bagi kelima sutradara muda yang berkontribusi di film ini. Hi5teria layak untuk ditonton, dengan keunggulan teknis dan sinematografi serta konsep cerita yang <em>overall</em> cukup<em>sahih</em>, dan yang terpenting film ini bukan horor Indonesia yang dibumbui adegan semi-porno.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Andrian Hadiana</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/07/hi5teria-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE RAID, ANOTHER LOOK (ON WHY I DIDN&#8217;T LIKE THE RAID)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/04/the-raid-another-look-on-why-i-dont-like-the-raid/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/04/the-raid-another-look-on-why-i-dont-like-the-raid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 12:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damasdamas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2045</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/serbuan_maut.jpg"></a></p>
<p><strong>The Raid</strong> merupakan film yang sedang banyak diperbincangkan orang. Di twitter, nama <strong>Mad Dog</strong>, <strong>Iko Uwais</strong>, dan <strong>Donny Alamsyah</strong> berkali-kali dibicarakan. Semua orang berbondong-bondong menontonnya. Di situs kineklub ini pun sudah diterbitkan sebuah review <strong>The Raid</strong>, yang kurang lebih&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/serbuan_maut.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2046" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/serbuan_maut-209x300.jpg" alt="" width="209" height="300" /></a></p>
<p><strong>The Raid</strong> merupakan film yang sedang banyak diperbincangkan orang. Di twitter, nama <strong>Mad Dog</strong>, <strong>Iko Uwais</strong>, dan <strong>Donny Alamsyah</strong> berkali-kali dibicarakan. Semua orang berbondong-bondong menontonnya. Di situs kineklub ini pun sudah diterbitkan sebuah review <strong>The Raid</strong>, yang kurang lebih menggambarkan perasaan orang-orang terhadap film ini. Tapi saya ingin memaparkan sesuatu yang mungkin tidak populer, tapi saya rasa harus diucapkan untuk sebagian kecil orang yang mungkin berpendapat sama seperti saya.</p>
<p><strong>Saya tidak suka The Raid.</strong></p>
<p>Sebelum saya mulai memaparkan hal-hal yang membuat saya tidak menyukai film ini, pertama-tama saya akan memaparkan hal-hal yang dilakukan film ini dengan baik. Sinematografinya baik, jauh lebih baik dari kebanyakan film Indonesia. Editannya rapih, dan terlihat profesional. Koreografi silatnya baik, sangat baik malah. Lantas kenapa saya tidak suka film ini?</p>
<p>Pernahkan kalian keluar dari bioskop atau selesai menonton sebuah film di DVD, dan banyak sekali kesan yang kalian dapatkan? Pernahkan hati kalian tergerak ketika menonton sebuah film? Entah tergerak ke arah bahagia, atau tergerak ke arah disturbing? Hampir setiap kali saya menonton film yang bagus, saya selalu merasa seperti ini. Tapi ketika saya selesai menonton<strong> The Raid</strong>, tidak ada yang tersisa di otak ataupun hati saya. Otak dan hati saya kosong, seperti isi film ini.</p>
<p>Saya ingin memberikan quote dari review seorang kritikus film, <strong>Roger Ebert</strong>. Dia berkata &#8220;<strong><em>The Raid: Redemption is essentially a visualized video game that spares the audience the inconvenience of playing it</em></strong>&#8220;. Kalimat itu menggambarkan film ini secara sempurna. Menonton film ini seperti menonton orang main <strong>Counter-Strike</strong>, tapi bedanya senjata diganti silat. Orang-orang di layar yang bertarung itu hanya seperti avatar yang kita kendalikan. Siapa mereka? Saya tidak tahu.</p>
<p>Bagaimana saya mesti peduli apakah orang-orang di layar hidup atau mati kalau saya tidak mengenal siapa mereka? Siapa Rama? Siapa Jaka? Sesuatu yang mirip dengan plot di film ini hanya diberikan secara sekilas, dan tidak terintegrasi dengan baik. Ada adegan Rama dan kakaknya berbicara selama 10 menit untuk memberi tahu kita plot film ini. Dalam 10 menit itu, mereka berharap kita mengerti dan peduli apa yang terjadi pada mereka. Saya mengerti, tapi saya tidak peduli.</p>
<p><a href="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/The_Raid_Redemption_6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2047" src="http://kineklub.lfm-itb.com/log/wp-content/uploads/2012/04/The_Raid_Redemption_6-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Orang-orang bilang kepada saya kalau film ini harus dilihat sebagai film <em>action</em>, dengan itu saya akan bisa menikmatinya. Namun saya tidak peduli. Untuk saya, yang paling penting dari sebuah film adalah ceritanya. Biarpun gambarnya bagus sekali sampai bola mata saya keluar dari rongganya, kalau ceritanya tidak bermutu saya tidak akan suka.</p>
<p>Saya tahu banyak orang yang akan suka menonton film ini. Dan buktinya memang banyak yang suka. Tapi saya tidak. Saya suka film <em>action</em>, dan saya tidak keberatan dengan film kekerasan. <strong>Oldboy</strong> merupakan salah satu film yang menurut saya sangat bagus, dan kekerasan di film ini sangat banyak. Tapi di film-film yang bagus itu ada tujuan dan ada kesimpulan. Ada aksi dan reaksi. Di <strong>The Raid</strong> setelah film berakhir apa kesimpulan yang didapat dari film ini? Bahwa adegan silatnya keren? Itu tidak cukup untuk membuat sebuah film menjadi bagus.</p>
<p>Saya ikut senang bila film ini mendapat banyak penghargaan di luar negeri, dan saya akui dari teknik pengambilan gambar dan koreografinya film ini jauh lebih baik dari kebanyakan film Indonesia. Tapi ini bukan film bagus untuk saya. Inilah bagusnya menulis review untuk saya. Review adalah hak saya, hak subjektif saya untuk menilai sebuah film, berdasarkan parameter-parameter yang sudah ada. Dan dengan itu, saya dapat menyatakan bahwa <strong>The Raid</strong> bukan film yang baik menurut saya.<em> <strong>If you like watching people fight for two hours straight, watch someone play videogames instead. It&#8217;s the same experience for me.</strong></em></p>
<p><strong>Hapsari Darmastuti<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/04/04/the-raid-another-look-on-why-i-dont-like-the-raid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CONTROL (2007)</title>
		<link>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/03/30/control-2007/</link>
		<comments>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/03/30/control-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 11:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kaztang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Western Movie Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kineklub.lfm-itb.com/log/?p=2031</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya merasa beruntung sekali dapat menyaksikan karya perdana Anton Corbijn yang satu ini. Seorang sutradara yang menambah gairah dunia perfilman. Sebuah film yang membuka mata saya akan kekuatan medium film dalam mengeksplorasi gambar dengan efek luar biasa menghipnotis. Eksekusi sebuah&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya merasa beruntung sekali dapat menyaksikan karya perdana Anton Corbijn yang satu ini. Seorang sutradara yang menambah gairah dunia perfilman. Sebuah film yang membuka mata saya akan kekuatan medium film dalam mengeksplorasi gambar dengan efek luar biasa menghipnotis. Eksekusi sebuah karya yang sederhana dan minimalis namun nyaris tanpa cela.</p>
<p>Control merupakan cerita tentang Ian Curtis, vokalis sebuah band Inggris bernama Joy Division yang meninggal secara tragis di usianya yang masih muda, 23 tahun. Cerita tentang pergulatanya &#8220;bersahabat&#8221; dengan penyakit ayan yang dideritanya, ketenaran prematur dan urusan berumah tangga di usia muda. 3 hal ini menjadi bumbu konflik yang karismatik untuk diikuti dalam film hitam putih selama kurang lebih 90 menit ini.</p>
<p><a href="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h41m22s185.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-280" src="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h41m22s185.png" alt="" width="500" height="206" /></a><a href="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h43m12s2.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-282" src="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h43m12s2.png" alt="" width="500" height="206" /></a><br />
<span id="more-2031"></span></p>
<p>Film ini  menggugah saya untuk terharu dan langsung simpati dengan karakter Ian Curtis di filmnya, walaupun sebelumnya saya tidak mengetahui siapakah dia gerangan. Cara dia merokok, syair-syair lagu ciptaanya yang tercipta secara mengalir, atmosfir ketika ia sedang manggung ,dan gaya rambutnya yang “rapih” membuat saya berpikir kenapa saya tidak pernah tahu tentang tokoh ini sebelumnya.</p>
<p><a href="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h45m32s138.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-286" src="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h45m32s138.png" alt="" width="500" height="206" /></a></p>
<p>Ketika simpati kita terhadap tokoh tersebut mulai muncul, kita diajak masuk ke dalam perasaanya yang berangsur-angsur menjadi lepas kendali dalam hidup. Sebuah cerita yang tidak terlalu istimewa dan berbeda namun hadir dengan ambisi dan intensitas sinematografi yang bercerita. Inilah jadinya sebuah cerita yang disampaikan lewat cara pandang fotografer handal yang peka mengomposisi gambar secara elegan dengan tingkat penceritaan yang tinggi. Saya terdiam untuk terus dan terus menyaksikan gambar demi gambar yang menurut saya brilliant sambil terdoktrinasi untuk menghayati ceritanya.</p>
<p>Unsur warna hitam putih yang digunakan sebagai tone utama filmnya berhasil membuat filmnya tambah spesial sekaligus menyumbang efek filosofis terhadap cerita keseluruhan. Musik Joy divison yang sederhana justru menunjukan kekuatanya untuk menginfluence music-musik british yang saya lumayan sering dengar akhir-akhir ini. Menyaksikan film ini seakan memberikan informasi perkembangan musik britpop tersebut era 80-an. Gambar hitam putih ditambah musik Joy Division tersebut menjadi sebuah paket spesial inspiratif dalam sebuah film yang cukup anti komersil ini. Setidaknya film ini memang hasil dari penasaran Anton Corbijn dengan media film sekaligus kecintaanya sebagai penggemar Ian Curtis tersebut. Dikisahkan juga Anton Corbijn pernah membuat video klip Joy Division sewaktu Ian Curtis masih hidup.</p>
<p><a href="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h44m26s227.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-284" src="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h44m26s227.png" alt="" width="500" height="206" /></a><br />
<a href="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h46m19s78.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-287" src="http://kazmate.files.wordpress.com/2011/01/vlcsnap-2011-01-18-22h46m19s78.png" alt="" width="500" height="206" /></a></p>
<p>Sebuah film yang memerhatikan pentingnya arti kualitas penceritaan secara gambar namun tidak serta merta mengambil alih kenikmatan film sebagai pesta pora 2 biji mata (spesial efek). Sebuah rekomendasi bagi anda yang berkenan menyaksikan bagaimana sinematografi gambar dalam sebuah film sebagai tonggak keampuhan dramatik penyampaian ceritanya.Tragedi dalam musik yang disampaikan dalam sinema intelek tidak murahan walau masih seputar isu eksploitasi penggunaan obat-obatan terlarang dan seks bebas.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Control | Tahun: 2007 | Genre: Biography, Drama | Sutradara: Anton Corbijn | Pemain: Sam Riley, Samantha Morton, Alexandra Maria Lara </strong></p>
<p style="text-align: right"><strong>TANGKAS WIBOWO<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kineklub.lfm-itb.com/log/2012/03/30/control-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

