SPRING, SUMMER, FALL, WINTER… AND SPRING (2003)

Asian Movie Review — By kevinaditya on December 29, 2011 at 1:19 am

Jika bayangan hidup damai nan ideal Anda adalah hidup di kuil mengambang di tengah danau yang dikelilingi hutan dan berletak di tengah pegunungan di Korea Selatan, maka karya sutradara Kim Ki-duk yang berjudul Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring ini menjadi wajib untuk ditonton. Film ini melingkupi semua gambaran tentang hidup tenang yang pernah didambakan orang Asia Timur manapun setidaknya sekali seumur hidup: Menjadi seorang pendeta Buddha, hidup selaras dengan alam dan hewan yang hidup di sekitar hutan, dalam aliran empat musim yang silih berganti… namun tentunya tanpa sebuah cerita, karya yang sangat Korea ini hanya akan menjadi video montase.

Dengan membagi film menjadi lima segmen sesuai judulnya, bagian pertama Spring mengalir mengikuti hidup seorang anak yang tinggal bersama pendeta yang mengurusnya, di sebuah kuil di tengah danau. Keseharian berjalan monoton namun indah, dengan pagi yang dimulai dengan sang pendeta yang mengetuk pintu “kamar” sang anak — sebuah pintu semu, karena sebetulnya dalam kuil tersebut hanyalah satu ruangan tanpa sekat, dan pintu tersebut tidak menempel pada tembok manapun. Tetapi keseharian mereka selalu menghormati pintu-pintu tanpa tembok tersebut: mengetuk sebelum masuk, menutupnya, dan tidak pernah tidak melaluinya untuk lewat. Sebagaimana terdapat pintu serupa di pinggir danau sebagai gerbang masuk ke kawasan tersebut, semua menghargai keberadaan pintu-pintu tersebut sebagaimana masyarakat menghargai tradisi yang turun-temurun. Pendeta dan anak tersebut menjalani hidup dengan sangat tenang, namun sebagaimana anak kecil yang banyak bermain, ia mencoba mengikat ikan, ular, dan katak yang ia temukan dengan batu, tanpa memedulikan penderitaan hewan-hewan kecil tersebut, menyebabkan ia dihukum kemudian dengan batu yang juga diikat ke punggungnya. Peristiwa ini seolah menjadi contoh budaya ketimuran yang memandang alam setara dengan manusia.

Summer yang menjadi bagian kedua meloncatkan cerita ke beberapa tahun mendatang, di mana sang anak telah menjadi remaja dan mereka kedatangan seorang ibu yang membawa anak gadisnya yang ‘sakit’ untuk menjalani terapi penyembuhan di kuil tersebut. Sebagaimana anak muda pada umumnya, ia pun jatuh hati pada gadis tersebut dan menjalin hubungan emosional maupun fisik. Dan ketika gadis tersebut telah dinilai sembuh dan pergi, sang anak pun kabur untuk mengejarnya.

Dalam bagian-bagian selanjutnya, cerita berlanjut layaknya siklus hidup manusia yang memiliki kehancuran dan penciptaan. Meski Kim Ki-duk sendiri mengakui tidak terlalu mendalami ajaran Buddha ketika membuat film ini, namun nuansa spiritual ketimuran tersebut terasa sangat kental dalam tiap adegan yang berlangsung. Sesuai nuansanya yang tenang dan mengalir, film ini merasa tidak perlu menjelaskan semua detil yang terjadi. Mengapa sang pendeta bisa mengikuti si anak ketika perahunya telah lebih dulu digunakan si anak? Mengapa si anak bisa begitu berani memanjat bebatuan dengan memanggul batu di punggungnya? Hal-hal kecil seperti ini biarlah menjadi unsur magis dari film tersebut, baik mau dijelaskan atau tidak oleh penontonnya sendiri.

Di luar konteks Buddhis yang sangat kentara, menonton film ini merupakan bentuk pemanjaan mata. Jika The Fall karya Tarsem mencoba menyorot estetika dari objek dan aktivitas yang bersifat megah, maka film ini justru membuai penontonnya dari keindahan alam semata yang menjadi luar biasa. Mulai dari air terjun yang membeku hingga pohon berusia 300 tahun, semua ‘gambar kalender’ tersebut merupakan objek yang benar-benar ada  dan merupakan bagian dari alam yang sesungguhnya. Tidak lupa, Kim Ki-duk memasukkan banyak binatang dalam film ini, mulai dari anjing hingga ayam jantan, mungkin sebagai bentuk menghargai hewan-hewan yang menjadi penghuni alam sejati. Sebagai sebuah tontonan senggang, Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring bisa menjadi sangat ringan untuk dicerna atau mengundang diskusi mendalam tentang Buddhisme. Meski begitu, tidak terbantahkan bahwa Kim Ki-duk telah menghasilkan sebuah karya yang sangat indah.

Kevin Aditya

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback