JANE EYRE (2011)

Western Movie Review — By Kineklub LFM ITB on December 29, 2011 at 1:07 pm

Saya belum pernah membaca novel Jane Eyre sampai habis. Selalu ada sesuatu yang membuat saya berhenti membaca di tengah-tengah, biasanya waktu yang kurang tepat. Saya menyukai semua buku atau film yang berlatar Inggris jaman dulu, karena itu saya masih mencari waktu untuk membacanya sampai sekarang. Well, setelah menonton film adaptasi Jane Eyre terbaru ini, saya langsung mengeluarkan buku Jane Eyre saya dan mulai membaca.

Tanda-tanda saya menyukai sebuah film adalah ketika saya merasa sedih ketika tokohnya sedih, ketika saya ikut deg-degan ketika tokohnya jatuh cinta. Itu semua saya rasakan saat menonton film ini. Hati saya ikut sakit ketika Jane Eyre sakit dan ikut deg-degan melihat percintaan Jane dengan Mr.Rochester.

Sebenarnya apa Jane Eyre itu bagi yang tidak tahu? Jane Eyre adalah sebuah novel klasik abad ke-18 tentang seorang gadis bernama Jane Eyre dan hidupnya dari kecil sampai besar, terutama kisah cintanya dengan Edward Rochester. Novel ini sama klasiknya seperti Pride and Prejudice tapi sedikit berbeda genre. Pride and Prejudice sering dianggap orang sebagai cikal bakal novel chicklit, dengan kisah cinta yang ringan. Sedangkan Jane Eyre adalah novel gothic, yang mempunyai latar gelap dan serius. Sudah berpuluh-puluh kali novel ini difilmkan dan yang terbaru adalah versi ini, yang dimainkan oleh Mia Wasikowska dan Michael Fassbender.

Film Jane Eyre dimulai dengan sosok Jane (Mia Wasikowska) yang melarikan diri entah dari apa, kemudian diselamatkan oleh seorang pendeta bernama St.John (Jamie Bell). Ketika St.John menanyakan nama Jane,scene kemudian berbalik flashback ke masa kecil Jane di rumah tantenya yang membencinya, masa sekolahnya di Lowood School, dan akhirnya ketika Jane lulus dan bekerja sebagai governess di rumah Mr.Rochester.

Dari awal film ini dimulai suasana yang dibangun sudah gelap dan suram. Kita bisa merasakan nuansa gothic itu, dari padang rumput kelam yang luas, kemudian mansion tua dan gelap yang merupakan rumah Mr.Rochester (Michael Fassbender). Ada sesuatu dalam rumah besar itu. Pada malam hari Jane mendengar suara orang berjalan di lorong dan wanita menangis. Suasana yang dibangun film ini mendukung genrenya yaitu gothic.

Nah sekarang bagian yang paling saya suka, romance. Interaksi Mr.Rochester dan Jane lebih kearah saling tukar menukar kata dan saling membalas pandangan. Mereka berbicara dengan cerdas dan mungkin karena akting yang menawan dari keduanya jadi saya bisa merasakan ketulusan mereka, bisa merasakan perasaan Jane dan Mr.Rochester. Interaksi mereka simpel tapi sangat efektif. Bandingkan dengan film romantic comedy jaman sekarang yang dipenuhi dengan seks dan hal-hal tak perlu.

Dialog dalam film ini semuanya seperti langsung keluar dari novel abad ke-18, penuh dengan kata-kata panjang dan metafora yang kadang tidak dimengerti oleh kita orang-orang yang tinggal di abad sekarang. Mungkin untuk yang tidak sabar akan menganggap film ini membosankan, tapi bagi yang menyukai buku-buku karangan Jane Austen pasti suka film ini.

Saya selalu merasa bahwa jaman Regency England, ketika wanita-wanita Inggris mengenakan gaun yang besar dan menghadiri ball demi ball, adalah jaman paling elegan. Ditambah lagi dengan aksen Inggris dan bahasa Inggris (bukan bahasa Inggris Amerika perlu diingat) yang merupakan bahasa yang sangat elegan. Oleh karena itu untuk saya film ini merupakan film kelam dan elegan, indah dari segala sisi. Saya suka latarnya, saya suka suasananya, kisah cintanya yang elegan, saya suka dialog-dialognya yang kuno. Kesimpulannya, I love this movie.

Tidak semua orang akan menyukai film ini karena dialog-dialognya yang kuno dan mungkin terkesan membosankan. Saya menyarankan film ini untuk penggemar novel-novel Jane AustenWuthering Heights, dan mungkin juga novel-novel Historical Romance jaman sekarang. Saya juga menyarankan film ini untuk penggemar film romance untuk membandingkan bahwa sebuah film romantis tidak harus mengumbar seks untuk bisa efektis. Kadang-kadang simpel memang lebih baik.

Hapsari Darmastuti

Tags:

    2 Comments

  • heyifa says:

    baru mau bikin reviewnya ternyata udah ada hehehe, tapi ini dark banget ceritanya, dikirain ceria kayak pride & prejudice. Gue ga terlalu suka, cuma aktingnya emang oke semua sih.

  • kaztang says:

    Sleepy Hollow versi romantis, tapi bener entah kenapa jaman dulu fall in love “complicated” nya mellow-mellow elegan. faktor British ya mungkin, btw… udah nonton Downton Abbey? recommended…

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback