THE BANG BANG CLUB (2010)

Western Movie Review — By silviaanugrah on October 2, 2011 at 1:31 pm

Sebuah foto fenomenal, tentang seorang anak dan seekor burung bangkai yang (terlihat) hendak memakannya, adalah sebuah trigger antusiasme saya terhadap film ini. Credit title menambah rasa penasaran saya dengan sebuah kata ‘based on true events’.

The Bang Bang Club (2010) bercerita tentang kehidupan empat fotografer jurnalis dengan segala macam konflik yang mereka liput dan berbagai macam resiko yang harus mereka hadapi. Greg Marinovich (Ryan Phillippe), Kevin Carter (Taylor Kitsch), Ken Oosterbroek (Frank Rautenbach), dan Joao Silva (Neels van Jaarsveld) adalah empat orang fotografer jurnalis di Afrika Selatan. Mereka selalu bersama dalam meliput segala kejadian yang terjadi disana.

Steven Silver, sang sutradara, membuat film ini seakan kumpulan foto-foto yang bercerita dari mana asalnya, bagaimana itu terjadi, dan seperti apa hasilnya. Runutan kejadian yang diliput dan diabadikan oleh empat fotografer ini menjadi sebuah harmoni ‘photo story’ yang benar-benar bercerita. Begitu banyak momen menarik yang dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan foto yang luar biasa.

Film ini berhasil menyampaikan bagaimana seorang fotografer jurnalis bekerja di medannya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan apa yang mereka cari, dan seperti apa resiko yang benar-benar mereka alami. Selama film ini diputar, saya dan seseorang yang duduk di sebelah saya, tidak henti dibuat tercengang oleh setiap momen yang mampu dibuat oleh sang sutradara dan kepiawaian sang DOP dalam mengemasnya. Komposisi dan momen yang tepat membuat film ini menjadi begitu mengesankan.

Film ini berhasil menyampaikan bagaimana seorang fotografer jurnalis bekerja di medannya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan apa yang mereka cari, dan seperti apa resiko yang benar-benar mereka alami. Jalan cerita film ini juga dibuat tidak hanya maju mengikuti waktu, seperti tipikal beberapa film yang ada, menampilkan sepenggal scene di bagian tengah atau akhir film di awal cerita, kemudian kembali ke awal cerita.

Teknik pengambilan gambar yang digunakan juga memperkuat film ini. Kamera tidak dibuat diam, melainkan kamera ikut dalam gerakan dalam film. Orang berjalan, orang berlari, kekacauan, semuanya dibuat nyata dengan gerakan kamera yang mencoba mengikutinya. Sudut pengambilan gambar diagonal yang digunakan juga konstan dari awal hingga akhir film.

Kejutan film ini justru ada pada akhir film, ketika credit akhir film ini. Mungkin ini agak sedikit spoiler, tetapi ini membuat saya berdecak kagum. Muncul beberapa foto hitam putih, mengingatkan kita pada penggalan-penggalan scene sebelumnya. Ya, semua scene empat fotografer memotret semua kejadian adalah reka ulang daro foto yang memang sesungguhnya ada dan hasil foto itu luar biasa.

Steven Silver dan Miroslaw Baszak secara brilian menampilkan berbagai macam kejadian dari beberapa foto yang sudah ada sebelumnya. Film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton, apalagi bagi para fotografer jurnalis ataupun para fotografer yang hendak menjadi seorang jurnalis.

Silvia Anugrah Dewanti

Tags:

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback