7 HATI, 7 CINTA, 7 WANITA (2010)

Indonesian Movie Review — By silviaanugrah on May 23, 2011 at 1:54 pm

Ketika kita menonton sebuah film karena terdorong oleh rasa penasaran yang datang dari pertanyaan “Kok film ini banyak jadi nominasi penghargaan film ya?”, maka kita akan menikmati film tersebut dengan penuh harapan, sebenarnya apa saja yang dapat membuat film tersebut sering muncul dalam beberapa nominasi penghargaan film. Yep, I’ve been there when I decided to watch this movie, selain alasan tidak ada film menarik lain lagi yang bisa saya tonton. Setelah menonton film ini juga saya baru mengetahui bahwa film ini pertama diputarkan di Australia pada Indonesian Film Festival, baru Mei 2011 film ini resmi diputar di beberapa bioskop di Indonesia.

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita menceritakan tentang kehidupan seorang dokter kandungan bernama Kartini (Jajang C Noer) yang selalu ikut terhanyut akan kehidupan setiap pasien yang ditanganinya. Ia menangani bermacam-macam pasien dengan beragam alasan kedatangan dan masalahnya masing-masing. Lily (Olga Lidya) ,seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangganya, datang untuk memeriksa keadaan kandungannya yang sudah cukup besar. Lily memiliki seorang suami yang mengidap kelainan seks, seperti seorang fetish. Ia selalu datang ke tempat praktek Kartini dalam keadaan memar di muka dan sekujur tubuhnya. Pasien lainnya pun beragam, dari mulai seorang PSK yang bernama Yanti (Happy Salma),yang datang bersama ‘anjelo’nya (Rangga Djoned), yang memeriksakan penyakit yang berhubungan dengan organ kewanitaannya, sampai dengan seorang murid SMP yang bernama Rara (Tamara Tyasmara) yang hendak memastikan apakah dia hamil karena sebelumnya telah berhubungan seks dengan pacarnya, Acin (Albert Halim), seorang murid SMA.

Berbeda dengan pasien tadi, pasangan suami istri yang terlihat sangat mesra dan lucu ini, Lastri (Tizza Radia) dan suaminya (Verdi Solaiman), mereka datang untuk pemeriksaan rutin karena masalah berat badan sang istri yang mempengaruhi keinginan mereka akan hadirnya seorang anak di tengah-tengah mereka. Pasien lain yang juga ditangani oleh Kartini adalah Ratna (Intan Kieflie), seorang buruh pabrik yang sedang hamil besar, yang memang mendambakan hadirnya seorang anak sedari ia menikah 5 tahun yang lalu.

Kehidupan Kartini di rumah sakit ini banyak diwarnai oleh kehadiran dokter kandungan lain, yaitu Dokter Anton (Henky Solaiman). Dokter Anton juga sudah lama praktek di rumah sakit yang sama dengan Kartini sehingga mereka sudah cukup dekat satu sama lain. Rumah sakit ini pun kedatangan dokter kandungan baru, seorang dokter muda bernama Rohana (Marcella Zalianty). Keberadaan Rohana membuat sedikit ‘dobrakan’ pada kehidupan Kartini yang mempunyai misi akan kehidupan para pasien wanita yang ia tangani selama ini. Akankah Kartini berhasil dan menemukan jawaban akan semua misi yang ia jalankan selama ini?

Dalam film ini, Kartini ikut andil dalam masalah yang dihadapi setiap pasiennya, baik hal kecil maupun besar. Kartini berpandangan bahwa wanita-wanita yang menjadi pasiennya merupakan seorang korban yang perlu ia tolong. Pemikiran dan pandangan Kartini tentang pasien-pasien yang ditanganinya tertuang dalam narasi yang muncul dalam setiap adegan dimana ia bertemu dengan pasiennya di ruang prakteknya. Yang menarik bagi saya, Robby Ertanto Soediskam sang sutradara sekaligus penulis film ini, mengemas setiap kata dan kalimat dalam rangkaian narasi yang indah dan cukup menggambarkan keadaan yang terjadi. Finishing touch yang sempurna juga diberikan oleh Jajang C Noer dalam memainkan peran Kartini dalam film ini. Tidak diragukan lagi kemampuan akting Jajang C Noer yang sudah melanglang buana dalam dunia perfilm-an Indonesia cukup lama, dan dalam film ini ia membuktikan bahwa kemampuannya dalam ber-akting sama sekali tidak pudar.

Karakter lain juga dimainkan dengan baik oleh beberapa pemainnya, seperti Happy Salma yang berperan sebagai PSK. Perannya dalam film ini sama sekali tidak membuat saya heran mengapa ia bisa mendapatkan Piala Citra 2010 sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Dialog ringan tapi cerdas yang dilontarkannya berhasil mengeluarkan karakter tokoh Yanti tentu saja ditambah dengan gaya bicara dan gesture tubuhnya yang sangat menghayati karakter ini.

Selain karakter Yanti, karakter Ratna sebagai seorang istri sekaligus wanita yang sangat sabar berhasil diperankan oleh pemeran pendatang baru, Intan Kieflie. Intan Kieflie patut diperhitungkan karena  kemampuannya dalam  memperlihatkan betapa berat hidupnya dan betapa sabar seorang Ratna menghadapi segala masalah dalam hidupnya.

Dibalik kesuksesan dari segi cerita, film yang sempat berpartisipasi dalam Balinale Film festival 2010 ini kurang menyajikan eksekusi dan kemasan yang se-sukses ceritanya. Dari segi visual pengambilan gambarnya, hal yang seharusnya diperlihatkan sebagai fokus cerita tidak digarap dengan baik. Banyak komposisi pengambilan gambar yang menurut saya tidak sesuai, seperti penggambaran keadaan rumah sakit yang diambil seperti gambar terpotong. Tetapi untuk segi tone dalam keseluruhan film ini cukup konsisten dengan pemakaian warna kuning kecoklatan, nuansa vintage. Selain itu, banyak terdapat scene yang menurut saya tidak penting, seperti adegan suami Lastri yang berteriak “Hail Hitler!” yang membuat saya menyipitkan mata. Satu hal yang paling mengganggu saya sepanjang film ini, yaitu tekssubtitles Bahasa Inggrisnya. Sepanjang film ini akan dihiasi oleh banyak penggunaan kata fuckfuckingbitch, dan kata kasar dalam bahasa Inggris lainnya yang sebenarnya jika disinkronisasikan dengan dialognya pada saat itu menjadi sedikit aneh bahkan sedikit tidak tepat dan tidak nyambung.

Bukan bermasuk untuk spoiler, tapi film ini ditaburi dengan banyak twist yang bertahap, sampai pada akhirnya saya bisa menebak sendiri. Banyak kejutan yang disajikan oleh film ini yang akan membuat anda beberapa kali melontarkan kata “ohh..”. Yang membuat film ini layak ditonton juga adalah pesan yang hendak disampaikan di dalamnya, dan jujur film ini sedikit membuka pikiran saya tentang salah satu isu yang diangkat dalam film ini.

Silvia Anugrah Dewanti

Tags: ,

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback