BIUTIFUL (2010)
Western Movie Review — By kevinaditya on February 18, 2011 at 3:22 amKapan seseorang bisa dinilai sebagai orang yang baik? Ketika seorang pengusaha sukses mendonasikan sebagian penghasilannya ke panti asuhan yang sudah reyot, maka orang akan memiliki pendapat bagus terhadapnya. Namun bagaimana jika seorang kriminal melakukan hal yang sama? Jika ia tinggal di perumahan kelas atas tentu hal itu akan diperdebatkan, namun ketika ia hidup di lingkungan kumuh yang penuh dengan hawa kriminalitas, kebaikan sekecil apapun akan bersinar. Relativitas moral ini banyak diperdebatkan terkait nilai ‘kebaikan’ manakah yang berlaku universal, namun hal tersebut merupakan hal yang tidak akan terpikirkan oleh seorang pria sekarat yang hidup di Barcelona bernama Uxbal (Javier Bardem), yang mencari pembenaran hidup kotornya sebelum ajal menjemput.
Jika anda pernah mengeluh hidup ini kurang menyenangkan, maka anda perlu mengintip kehidupan Uxbal dalam film Biutiful arahan Alejandro González Iñárritu ini. Seorang duda setelah bercerai dari istrinya yang pelacur, Uxbal yang bekerja sebagai pemasok tenaga kerja gelap bagi industri tas Gucci palsu ini baru saja divonis tinggal hidup 2 bulan lagi karena kanker prostat yang dideritanya. Vonis itu menjadi sebuah beban tambahan setelah menjalani hidup dikelilingi perdagangan narkoba yang disokong polisi korup, dan puluhan tenaga kerja dari Cina yang hidup tidak layak di sebuah basement. Seolah hidupnya tidak cukup sulit, Uxbal juga ‘diberkati’ kemampuan melihat arwah, meski kadang ia mendapat uang tambahan dari kemampuannya itu. Namun, nuansa kesuraman Biutiful yang pekat terimbangi oleh tekadnya membawa kedua anaknya yang masih kecil, Ana (Hanaa Bouchaib) dan Mateo (Guillermo Estrella) untuk menempuh jalan yang cerah di luar pengaruh buruk mantan istrinya Maramba (Maricel Alvarez). Dengan plot yang sekilas mengingatkan kita pada Ikiru karya Kurosawa, Uxbal mencoba membersihkan dirinya dan dunia sekitarnya agar dapat meninggalkan dunia dengan tenang.
Usaha memang mudah diucapkan, namun apakah Uxbal dapat melaksanakannya dengan mulus? Sekalipun kisah ini hanya terjadi dalam layar, Iñárritu mengingatkan kita bahwa roda kehidupan bisa berputar setragis mungkin, dengan kejadian demi kejadian buruk yang tak berbelas kasihan. Usahanya membeli pemanas murah bagi para imigran Cina di basement berakhir menyedihkan. Kemoterapi yang ia jalani tidak dapat menyembuhkan kanker ganasnya. Kedua anaknyalah yang memberi kekuatan terakhir bagi Uxbal, karena meski bukan ayah yang baik, ia berusaha membuat kenangan terakhir dengan mereka seindah mungkin.
Menyaksikan kisah Uxbal memang hanya pas jika karakternya diperani Bardem. Aktor yang banyak diingat sebagai Anton Chigurh si pembunuh gila dalam No Country for Old Men ini adalah sumber kekuatan dalam Biutiful, membawa penonton terhanyut dalam karakter kerasnya yang mencari kehangatan sekecil apapun. Namun ada kalanya Iñárritu membawa film ini terjebak terlalu jauh ke dalam nuansa muram dengan latar ruangan-ruangan sempit dan plot sampingan yang terasa sekedar sebagai bumbu pelengkap. Unsur supranatural yang dimasukkan dalam jalan cerita hanya akan sedikit mempengaruhi jika dihapus seluruhnya dari karakter Uxbal. Tetapi, di balik latar kehidupan keras masyarakat kelas bawah Barcelona, Iñárritu dapat menangkap kebahagiaan seorang yang telah menjalani hidupnya dengan makna, ketika Uxbal pada akhirnya bertemu dengan leluhurnya.
Tags: 2010, art house, mexican


Tweet This
Digg This
Save to delicious
Stumble it




