BLUE VALENTINE (2010)

Western Movie Review — By Kineklub LFM ITB on February 17, 2011 at 8:04 am

Hari valentine yang penuh cinta saya lewatkan dengan menonton film yang berjudul Blue Valentine yang diperankan oleh Michelle Williams dan Ryan Gosling. Terkesan menye-menye dan sok sweet memang, tapi saya berharap lebih ketika menonton film ini, berharap bahwa cerita yang disajikan extra-sweet dan makin menambah euphoria hari penuh cinta itu. Blue Valentine ini ternyata mengisahkan tentang sebuah hubungan antara suami istri yang sedang di ujung tanduk dan berbagai jenis usaha, baik dari sang suami maupun sang istri, untuk menyatukan kembali rumah tangga mereka.

Dean (Ryan Gosling), seorang lelaki yang putus sekolah, pertama kali bertemu dengan Cindy (Michelle Williams) yang merupakan seorang mahasiswi kedokteran, ketika sedang bekerja sebagai pengangkut barang pindahan yang pindah ke apartemen yang sama dengan nenek Cindy. Dean yang tertarik dengan Cindy langsung melancarkan berbagai macam pendekatan dan berhasil mendapatkan hati Cindy. Namun, ketika cinta mereka sedang hangat-hangatnya, terkuak sebuah fakta bahwa Cindy hamil dan ayah dari bayi di kandungannya itu adalah mantan kekasihnya, Bobby. Karena Dean sudah kepalang cinta dengan Cindy, ia pun menawarkan agar Cindy mau menikah dengan dirinya dan bersedia menjadi ayah bagi bayi di kandungan Cindy, karena Bobby tidak bersedia untuk bertanggung jawab. Pernikahan yang mendadak ini ternyata tidak berjalan mulus. Banyak masalah yang terjadi, pertengkaran yang tiada habisnya, dan ketidakcocokan antara mereka berdua yang makin hari makin terlihat saja. Karena melihat keadaan rumah tangganya sedang dalam bahaya, Dean yang amat mencintai istrinya memiliki ide untuk menghabiskan waktu berdua dengan istrinya di sebuah motel dalam rangka valentine, dan menitipkan anak mereka ke orang tua Cindy. Tapi rencana hanya rencana, karena usaha Dean ini justru makin membuka masalah di anatara mereka dan makin membuat runyam keadaan.

Film yang berdurasi selama 112 menit ini memiliki alur maju mundur yang awalnya sedikit membingungkan. Tapi pada akhirnya saya jutru merasa ini cara yang menarik untuk menceritakan masa lalu antara Dean dan Cindy dan mengkaitkannya dengan masa sekarang. Masalah demi masalah terungkap dengan kreatif dan tidak membosankan, justru cenderung membuat penasaran.

Karakter Dean di film ini juga menambah nilai plus untuk film ini. Dean yang diperankan sangat baik oleh Ryan Gosling merupakan lelaki yang penuh rasa humor sekaligus sangat penyayang dan sweet. Karakter Dean sangat membekas di hati saya sebagai penonton karena berhasil membawa cerita menjadi lebih romantic dan berhasil membuat saya berbicara ‘so sweet’ lebih dari 7 kali. Michelle Williams yang mendapat nominasi aktris terbaik di Academy Awards untuk film ini juga menbawakan peran Cindy yang sedikit quirky namun keras dengan baik. Ia berhasil membuat saya membenci karakter Cindy karena begitu saja menyia-nyiakan kebaikan dan kasih sayang yang diberikan oleh Dean. Karakter yang saling bertolak belakang antar pemain di film ini memiliki peran yang cukup besar dalam keseluruhan film ini.

Yang sedikit mengecewakan dari film ini justru adalah ending dari film Blue Valentine ini. Tidak bermaksud spoiler atau semacamnya, tapi ending dari film ini betul-betul tidak sesuai ekspektasi saya. Dari awal saya menonton film ini, grafik ketertarikan saya akan film ini terus meningkat, namun langsung turun drastis ketika melihat ending yang kurang klimaks dan menurut saya bisa dibuat lebih baik dari pada itu. Selain ending, setting film ini menurut saya juga kurang menarik karena tidak ada yang istimewa. Hanya satu setting yang menurut saya lumayan menarik, yaitu kamar motel Dean dan Cindy yang bertema future room, dan terlihat futuristic. Sisanya biasa saja dan bukan bagian yang bisa ditonjolkan dari film ini.

Untuk menjadi film pengisi hari yang kosong, Blue Valentine bisa menjadi pilihan. Ekspektasi Anda untuk mendapatkan sisi romantic dari film ini pun bisa didapat dan cukup memuaskan. Tapi jangan kecewa melihat endingnya yang kurang klimaks, karena sebenarnya cerita yang disodorkan dalam film ini cukup menarik dan didukung dengan banyak aspek seperti karakter, pemain, dan alur, film ini bisa tetap bisa menghibur anda dan menjadi pilihan di kala waktu senggang. Sekadar pesan saja, untuk orang-orang yang mudah terbawa emosi ketika menonton film, disarankan jangan ada benda-benda yang memungkinkan untuk dilempar ke monitor di sekitar anda, karena Anda bisa kecewa dan emosi melihat endingnya yang benar-benar membuat gregetan lalu melempar barang-barang seperti buku, sendal, bahkan bakiak ke monitor anda dan merusakkan monitor anda, lalu menyesali apa yang anda perbuat, hahaha.

Diantha Arafia

Tags: ,

    7 Comments

  • damasdamas says:

    cieee review perdana ya tanthaa hihihi.

  • kaztang says:

    ini lirih banget, macam radit dan jani versi luar, versi “nyeni” but i had 1000% dissagree with you tanthaa, the ending is spectacular!!! deep in the way of images and music work together creates a sort of dream-scape.A truth in filmmaking. Attempts to capture relationships on the big screen that’s not fantastical but more grounded and more honest, BLUE VALENTINE has perfected it.

  • dinoy says:

    “karena Anda bisa kecewa dan emosi melihat endingnya yang benar-benar membuat gregetan lalu melempar barang-barang seperti buku, sendal, bahkan bakiak ke monitor anda dan merusakkan monitor anda, lalu menyesali apa yang anda perbuat, hahaha.”

    true.

    film ini ga cocok ditonton sama pasangan yang baru jadian
    ataupun udah lama jadian
    atau lagi bahagia-bahagianya

    not a mindfuck movie,
    heartfuck i say

  • kaztang says:

    jadi mas dinoy ini suka atau ga ya? semoga masih mencerminkan interestnya ke film terlebih sekarang mas dinoy lagi bahagia atau sedih? hahaha… tapi ini real kayanya, somehow relationship manage to reach this point. even you’re married or not yet… again “not fantastical but more grounded and more honest, BLUE VALENTINE has perfected it.”

  • dinoy says:

    perasaan kan serunya ditebak tebak kas #eaaa

    i love the story for saving me from wasting time impulsively loving someone.

    i hate the movie for telling the story that way. people do feel.

  • Ifa says:

    Endingnya oke ah menurut gue, kayak gue bisa merasakan keputusasaan dean #yazek

    tapi ceritanya bikin hati perih huhuhu, pantes judulnya blue valentine.

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback