RED BEARD (1965)

Asian Movie Review — By Kineklub LFM ITB on February 9, 2011 at 2:39 am

Film hitam putih berlatar zaman Edo Jepang dengan durasi sekitar 3 jam yang disadur dari novel. Siapa yang tidak shock melihat deskripsi seperti itu? Saya sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi alur cerita yang lambat dan kata kata yang bertele-tele untuk kemudian mengantuk dan bosan. Tapi ternyata kekhawatiran saya sama sekali tidak terbukti.

Yasumoto Noboru adalah seorang dokter muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Dengan ambisi untuk menjadi seorang dokter kalangan elit yang sukses dan kaya, dia diutus ke rumah sakit yang dikepalai oleh Kyojo Niide.

Ternyata tugas pertamanya ini tidak seperti bayangannya. Rumah sakit ini berisi orang orang miskin yang bahkan tidak membayar untuk dapat disembuhkan. Mereka dirawat seadanya, berjejalan dalam kamar kamar sempit dan obat obatan seadanya.

Sang kepala rumah sakit pun bukan orang yang menyenangkan. Kyojo Niide, yang biasa dipanggil dengan sebutan Red Beard , adalah orang yang keras, misterius dan tidak ramah. Tentu ini semua tidak sesuai dengan ambisi Yasumoto. Dia pun bersikeras untuk keluar dari sana.

Tapi setelah banyak menghabiskan waktu membantu Red Beard, Yasumoto pun belajar mengubah sudut pandangnya dan mengubah mimpinya selamanya.

Ada alasan mengapa film ini dinominasikan untuk Golden Globe. Dengan genre drama sangat sangat rawan penonton akan bosan selama pertengahan film. Apalagi mengingat film ini masih film hitam putih dan tiga jam bukanlah waktu yang sebentar. Namun film ini punya kombinasi antara magnet dan kafein yang menjamin fokus penonton tidak beranjak dan memaksa mata tetap terbuka lebar walaupun diserang dengan pendingin ruangan dan kursi nyaman yang empuk. Film ini punya sesuatu yang mampu tetap berada di tengah tengah grafik, bukan diatasnya lalu tiba tiba terjun bebas ataupun mendaki dari grafik terbawah menuju klimaks.

Hal yang paling menonjol dari film ini adalah kekuatan karakternya dan bagaimana kekuatan karakter itu mempengaruhi karakter lain. Mungkin ini pengaruh lamanya proses syuting yang memakan waktu selama 2 tahun sehingga para pemeran pun begitu merasuk ke dalam karakter yang mereka mainkan. Bahkan Mifune, pemeran Red Beard, setelah selesai proses syuting tetap memelihara janggutnya sampai akhir hayatnya.

Tahun 1965 film ini menjadi sukses besar bagi Kurosawa dan mengantarkannya mendapat berbagai pengahargaan : Best film dan Best Director dari Kinema Jumpo.  Mifune pun mendapat penghargaan Best actor dalam Venice International Film Festival untuk perannya di film ini. Harga yang sangat pantas untuk perjuangan proses syuting yang memakan waktu sebegitu panjangnya.

Sebuah film yang saya yakin akan endless, tak akan lekang dimakan waktu. Bahkan untuk 50 tahun ke depan saya yakin akan masih ada orang orang baru yang pikirannya akan dilekati oleh Red Beard selama beberapa minggu, merekomendasikannya kepada teman temannya, menjadikannya film favorit, atau bahkan terinspirasi untuk membuat film yang kualitasnya setara.

Zahra Ratnasari

Tags: , ,

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback