LET ME IN (2010)

Western Movie Review — By Kineklub LFM ITB on January 30, 2011 at 5:10 am

Setelah berabad-abad dibuat penasaran dan menunggu lama karenanya, akhirnya akhirnya penantian saya berakhir di Gandaria City XXI pada tanggal 10 Januari 2011.

Let Me In (2010) merupakan sebuah drama manis yang dibumbui thriller tentang seorang anak bernama Owen (Kodi Smith-McPhee). Owen berumur 12 tahun dan merasa sangat kesepian. Di sekolah dia merupakan ajang bully-an genk berandal, sedangkan di rumah dia harus menghadapi perceraian kedua orangtuanya. Kesepian Owen berakhir ketika bertemu dengan gadis seumuran dirinya yang baru saja menjadi tetangganya. Gadis itu adalah Abby (Chloe Moretz).

Pada awalnya, Owen mengira Abby adalah anak yang aneh. Namun, seiring berjalannya waktu Owen merasakan cinta yang mendalam pada Abby. Abby sendiri menolak cinta Owen sampai akhirnya dia bersedia memberikan hatinya, juga jati dirinya. Jati diri Abby yang ternyata seorang vampir menuntun Owen kepada kenyataan-kenyataan di luar dugaannya. Kebersamaan mereka pun diuji oleh serangkaian kejadian-kejadian menyakitkan.

Let Me In sendiri merupakan adaptasi dari novel Swedia berjudul Let The Right One In karangan John Ajvide Lindqvist. Pada tahun 2008, sutradara Tomas Alfredsonmembuat film adaptasi yang berjudul serupa. Film Swedia inilah yang dinyana di remake oleh sutradara Matt Reeves dan hupla! Jadilah Let Me In ini rilis dan dikonsumsi mancanegara.

Saya pribadi sangat tertarik menonton Let Me In karena penasaran dengan Let Right One In yang dibuat versi Hollywoodnya. Apakah Hollywood mampu menerjemahkan keindahan visual khas Eropa dengan sentuhan mainstreamnya? Apakah ceritanya ada yang diubah? Apakah Let Me In menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan pendahulunya? Apakah Let Me In mampu menandingi, bahkan mengalahkan Let The Right One In? Saya sendiri memang belum pernah membaca novel aslinya, jadi perbandingan-perbandingan yang saya buat tentu saja berdasarkan kedua film ini semata.

Sebagai seorang yang telah menonton Let The Right One In terlebih dahulu, saya berani mengatakan Let Me In tidak menampilkan sesuatu yang berbeda, bahkan hampir terkesan sama persis. Setting, sinematografi, bahkan dialog-dialognya pun serupa. Walaupun terdapat sedikit perbedaan dalam penyampaian cerita, hal tersebut tidak memberi dampak apapun kepada saya.

Adegan dalam Let Me In

Adegan dalam Let The Right One In

Namun, kembali lagi kepada sentuhan khas Hollywood, Let Me In mungkin lebih mudah dikonsumsi khalayak ramai. Menontonnya pun tidak memberikan after-shock sebagaimana film pendahulunya. Semua terasa jelas, tidak ada tanda tanya di kepala. Kesan thriller pun jauh lebih kental. Adegan polisi-adalah-penyelamat-umat-manusia khas Amerika pun tidak ketinggalan hadir dalam film ini.

Jika saya bukanlah seseorang yang menonton Let Me In karena kehebatan film pendahulunya, saya akan bilang film ini cukup menarik. IMDB pun memberikan rating7.4/10 untuk film ini, rating yang cukup pantas. Imaji saya tentang percintaan antara vampir dan anak manusia yang telah dipenuhi oleh Edward Cullen (dan wanita mesum Bella Swan. Oh iya, warewolf otot Jacob Black juga tidak ketinggalan) hilang sudah. Ketulusan antara anak 12 tahun dengan mudah direfleksikan oleh adegan demi adegan.

Yang cukup menarik perhatian saya adalah karakter Abby yang diperankan oleh Chloe Moretz. Ekspresinya seperti menyimpan sesuatu. Senyumnya seperti sebuah tanda tanya besar. Bukan citraan mengerikan khas vampir yang saya rasakan, tetapi perpaduan antara sesuatu yang dingin, lembut, namun penuh kasih sayang. Juga misterius. Padahal, pemain bocah ini telah dilarang untuk menonton film pendahulunya agar dapat menampilkan tokoh Abby secara orisinil. Saya rasa Chloe Moretz telah berhasil menerjemahkan karakter bocah sadis dengan gayanya sendiri.

Secara keseluruhan, Let Me In merupakan film yang dapat menambah khasanah Anda tentang perfilman. Darah dan cinta tidak hanya dapat diilustrasikan oleh manusia dewasa semata. Bagi yang tidak menyukai film horor pun jangan khawatir, saya jamin seratus persen film ini bukan film yang ditujukan untuk menakut-nakuti layaknya film horor Indonesia. Oya, lupakan sejenak Twilight saga, maka Anda akan merasakan kasih sayang yang berkualitas antara vampir dan manusia biasa.

Anissa Yuniashaesa

Tags: , ,

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback