TANGLED (2010)
Western Movie Review — By Kineklub LFM ITB on December 11, 2010 at 1:21 pmPenuh warna, penuh tawa, dan penuh alunan indah, 100 menit yang mewah untuk saya pribadi. Adalah film Tangled (as known as Rapunzel) yang membuat saya merasakan kemewahan tersebut.
Pertama kali melihat posternya yang penuh warna saya sudah jatuh hati. Gadis cantik bermata bundar dengan gaun panjang dan rambut pirang ditemani pria, kuda, dan bunglon. Menarik! Maka di suatu hari di bulan desember, mengantrilah saya di depan mbak mbak penjaga karcis. Membeli 2 tiket lalu menuju studio 1, kursi 6F. Duduk manis saya menunggu kehadiran sang putri berambut panjang dalam layar. Lalu…huwoo saya terpesona, Disney telah menampakkan kemahirannya membuat CGI. Menampilkan gambar indah berwarna-warni, 100 menit yang membawa saya merasa tinggal di negeri dongeng.
Tangled berkisah tentang putri cantik dengan rambut super panjang yang memiliki kekuatan ajaib. Ia dikurung dalam menara tinggi, disembunyikan penyihir jahat yang terobsesi akan kecantikan fisik. Ditemani seekor bunglon sang putri menghabiskan 18 tahun kehidupannya dalam menara. Lalu suatu hari takdir membuat sang putri berambut panjang bertemu dengan pencuri mahkota (bukan seorang pangeran!) yang tengah kabur dari kejaran seekor kuda. Perjanjian terjalin antara dua mahluk yang tidak saling kenal itu. Sang pencuri berusaha mendapatkan kembali mahkotanya dan sang putri berusaha kabur dari menara tinggi.
Cliché! Lalu mereka saling jatuh cinta dan hidup bahagia. Tapi tunggu dulu, Tangled mengahadirkan kisah manis ini dengan balutan komedi slapstick yang hebatnya dapat dinikmati baik oleh anak-anak atau dewasa (seperti permasalahan antara pencuri dan hidungnya). Beberapa kali saya terbahak saat menikmati film ini. Hebatnya lagi film ini bukan hanya menghadirkan keindahan gambar dengan CGI memukau dan humor yang segar, tetapi juga mengahadirkan kisah yang menyentuh. Bertemakan impian, kasih sayang orang tua, dan cinta. Hangat. Itu mungkin salah satu kata yang mampu menggambarkan perasaan saya menonton film ini. Mungkin masih terdengar bias, hangat bukanlah kata yang berparameter jelas, tapi jujur saya merasakan kehangatan saat melihat perjuangan Rapunzel, gadis polos yang berjuang sekuat tenaga untuk menggapai mimpinya. Adegan saat Rapunzel berhasil mencapai impiannya membuat saya terharu setengah mati. Visualisasi sempurna antara kecantikan Rapunzel dan warna warni lampion membuat saya ternganga di kursi penonton. Adegan yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.
Rapunzel membangkitkan kembali kemampuan saya untuk bermimpi, suatu hal yang mulai saya lupakan ditengah realita yang membuat saya harus bekerja cepat apabila tidak ingin terinjak. Bukan hanya Rapunzel, sang raja dan ratu juga memberikan kontribusi untuk rasa hangat yang saya dapatkan, kecintaan dan kesabaran mereka menunggu sang putri yang hilang selama 18 tahun tergambar dengan baik di film ini. Kemudian semua kombinasi ini semakin sempurna dengan kehadiran lagu-lagu indah sepanjang film. OH MY GOD, saya bagai bocah kerasukan yang menari nari girang menikmati alunan musik khas Disney yang ceria, manis, dan asik dibuat berdansa. Walaupun belum semelekat lagu Aladin di benak saya, namun saya menikmati sekali lagu-lagu yang ditampilkan dalam film Tangled. Lagu yang dinyanyikan oleh tokoh-tokoh dalam film ini berhasil memperkuat pendalaman karakter dari tokohnya. Rapunzel yang tidak mudah menyerah, bersemangat, dan polos. Penyihir yang picik dan para pria berbadan besar dengan wajah garang yang ternyata baik hati. Sejuta cinta untuk Mandy Moore dan para pengisi suara lainnya.
Menarik! Menarik! Film Tangled bukanlah film yang akan membuat anda tangled (kusut) setelah menontonnya. Walupun mungkin Anda akan sedikit bingung dengan panjang rambut Rapunzel yang sebenarnya karena selalu berubah hampir pada setiap scene. Tapi secara keseluruhan, untuk Anda yang menerima ketidakrasionalan kisah impian, untuk Anda yang menikmati tarian dan nyanyian dalam film, untuk Anda yang menyukai kisah manis asmara dua sejoli, Tangled dapat dijadikan salah satu film wajib tonton.
Enjoy movie, and sing along. Lalala~
Latifa Dwiyanti
Tags: 2010, Animation, disney, Hollywood


Tweet This
Digg This
Save to delicious
Stumble it






5 Comments
mengantri -> membeli 2 tiket -> menuju studio 1 -> duduk manis -> huwoo saya terpesona -> terbahak -> ternganga di kursi penonton -> bermimpi -> bagai bocah kerasukan -> menari nari girang…
Hemmm…tampaknya Anda lebih menarik untuk dilihat ketimbang si Rapunzel itu…
Wakakaka….
btw, film-nya tampak menarik, akan saya tonton suatu saat nanti.
setujuuuuuuuuuuu. Film ini mengembalikan gw ke jaman SD, terpesona menonton Belle di Beauty and the Beast, Ariel di The Little Mermaid, dan puluhan Disney Princess lainnya. Nonton 2 kali dalam dua hari berturut-turut. Dan begitu keluar bioskop perasaannya sama : hangat. Ga bisa berhenti senyum, dan ga sabar pengen beli DVDnya supaya bisa nonton berkali2. Begitu pulang ke rumah langsung download soundtracknya satu album, masukin itouch, terus nyanyi2 tiga hari berturut2 kaya orang gila.
btw, great review Tifaa. Suka deh pemilihan kata2nya Tifa hihihihi
I Like this review and i love dreaming
@ka timmy : haha. saya memang menarik #apeu
@ka damas : kya kya. terimakasih ka damaas :*