LAGUNA BEACH : The Real Orange County , a So-called ‘Reality Show’

Western Movie Review — By damasdamas on September 27, 2010 at 1:22 pm

Pada waktu saya SMA kelas satu, saya jatuh cinta dengan sebuah TV series. Judulnya The OC. Tentang sekumpulan remaja kaya yang tinggal di perumahan elit di daerah kaya di Orange County, California. Oke mungkin dari penjelasan saya tentang TV series itu, yang kebayang adalah ‘tontonan remaja labil’ dan ‘tidak berbobot’. Mungkin untuk remaja labilnya benar, karena memang saya dulu masih remaja labil dan bahkan pertama saya nonton series ini karena saya suka baca majalah Dolly, sebuah majalah remaja Australia, dan di majalah itu semua remaja disana begitu terobsesi dengan series itu. Yang saya maksud dengan terobsesi adalah kalimat – kalimat seperti ‘OH MY GOD. Seth is soooo hot. I am so dumping my boyfriend and search for a cute nerd next’. Ya, begitulah saya dan bacaan saya dulu. Begitu labil.

Saya kemarin menonton ulang beberapa episode dari The OC, dan saya baru menyadari bahwa ternyata The OC is clever. The OC is a series about rich kids, true, TAPI dialognya cerdas, paling tidak untuk dua season pertama. Dan saya sangat menyayangkan datangnya sebuah series yang menghancurkan kenangan saya yang indah tentang The OC.

Laguna Beach : The Real Orange County

Yang pertama membuat saya tertarik menonton  series itu, tentu adalah embel – embel the real Orange County. Dulu saya yang labil berpikir ‘Wah ini kayak The OC, tapi reality show! Bisa ngeliat sebenernya remaja di OC itu gimana!’

Betapa salahnya saya.

Laguna Beach : The Real Orange County adalah sebuah reality drama yang ditayangkan oleh MTV. Idenya adalah, MTV mengikuti sekumpulan remaja di Laguna Beach, California saat mereka menjalani tahun terakhir di SMAnya. Setiap episode dinarasikan oleh Lauren Conrad, atau LC, yang terjebak cinta segitiga antara Steven dan Kristin, sementara Steven terjebak antara rasa cintanya dengan LC, Kristin, dan kegantengan diri sendiri. Sedangkan Kristin, sibuk  merusak mobil Hummernya secara sengaja supaya dibelikan yang baru, dan sibuk berdansa erotis dengan cowo lain di depan mata Steven. Beberapa cast yang lain pun semua sibuk. Sibuk mencari dress yang tepat untuk pesta yang ini dan yang itu, dan sibuk mengeluhkan hidup mereka yang begitu menderita.

Selama saya menonton series ini, saya terjebak antara ketidak percayaan bahwa ada sekumpulan remaja yang begitu bodoh dan manja, dan ketidakpercayaan bahwa MTV masih berani mengklaim bahwa reality drama ini 100% tidak ada rekayasa.

Tapi tanpa alasan yang saya tahu persis, saya membeli dan menonton season duanya juga. Jelas saya tidak punya hal lain yang lebih penting untuk dilakukan.

Saya akan mencoba mereview series ini dari parameter – parameternya :

PLOT :

Plot? What plot? Series ini menceritakan bagaimana sekumpulan remaja kaya bangun pagi dirumah yang sangat besar dan megah, naik mobil mewah ke sekolah (tapi tidak pernah diperlihatkan bersekolah atau belajar), shopping ke butik membeli tiga baju mahal yang sama persis tapi warnanya berbeda, kemudian berpesta di hotel dan make out dengan cowo ini dan cowo itu, kemudian berantem memperebutkan cowo ini dan itu. Setelah semua kegiatan berguna yang mereka lakukan itu, mereka mengeluh dan nangis – nangis bilang ‘ My life sucks. I’m the most miserable person on earth

Ya. Terimakasih remaja Laguna Beach. Saya setuju sekali bahwa kalian, dengan mobil mewah, rumah mewah dan tampang cantik, adalah orang paling menderita di seluruh dunia.

CAST :

Saya sudah bilang tadi, bahwa remaja disini adalah remaja yang paling manja yang pernah ada. Kalau ini fiksi, saya bisa memaklumi karena mungkin ini scriptwriternya. Tapi ini REALITY! Remaja – remaja disini memilih untuk bertindak bodoh dan manja. Dan yang saya ga habis pikir, menurut MTV tayangan ini mendidik. Mendidik remaja – remaja bahwa tidak apa – apa menghabiskan uang orang tua dengan membeli mobil baru dan berpesta tiap malam mungkin. Atau mungkin mendidik generasi sekarang agar lebih bodoh dan lebih manja lagi.

Dialog – dialognya selalu berkutat seperti :

I was, like, sooo pissed of with, like, Kristin. I mean, like, Oh my god, that bitch! She was, like, totally wore the same dress as me! That was, like, so slutty!

Ya. Kalimat di sini tidak lengkap tanpa kata like yang digunakan berulang – ulang karena tentu saja tanpa kata – kata itu kalimat tidak afdol.

HAL POSITIF :

Hmm.  Saya nonton di DVD, dan untuk sebuah reality show, gambarnya cukup tajam dan sekualitas dengan film series, bukan reality show lain. Bonus featurenya melimpah, bahkan dimasukkan dalam satu DVD khusus. Bonus featurenya berkisar antara Virtual Tour of Laguna Beach, yang mengikuti salah satu tokoh selagi mereka berkeliling Laguna Beach untuk berbelanja, karena tentu saja semua adegan belanja di seriesnya sendiri belum cukup. Ada Virtual Tour rumah – rumah mewah mereka juga. Deleted scenesnya mencapai 30, banyak interview cast, dari interview awal sampai interview ketika series ini sudah berakhir.  Bonus feature itu, walaupun isinya tidak penting, adalah salah satu hal positif untuk saya. Selain itu, mungkin dialognya. Dialog di film ini diucapkan dengan super cepat seperti ketika kita sedang ngobrol dengan teman kita dan penuh slang slang Amerika dan menangkap apa yang mereka katakan sangat susah. Positif untuk saya karena hal ini bagus untuk melatih bahasa Inggris saya dan menambah kosakata slang Amerika saya. Dimana lagi saya bisa belajar cara bicara khas remaja kaya Amerika yang penuh dengan like dan slut dan bitch?

Setelah menonton  ini, saya bingung dengan beberapa hal :

a.)    Kenapa remaja – remaja Amerika begitu suka nonton ini, yang ditandai dengan rating yang tinggi.

b.)    Kenapa ini malah menciptakan tren baru, reality drama

c.)     Kenapa saya nonton series ini

Setelah dua season itu, ada satu season lagi di Laguna Beach, kemudian season 4 berpindah tempat di Newport Beach. Saya yang sudah bertambah bijak, tidak menonton maupun membeli kedua seri itu.

Tapi tidaaak. Masih ada lagi. Lauren, narator season satu, memulai karir di LA, dan MTV memutuskan mengikuti dia lagi dan lahirlah The Hills, sebuah film seri yang basically Laguna Beach di LA, dengan high school diganti work, dan party diganti dugem yang bertahan enam season entah mengapa. Tapi tidaaak. MTV masih belum puas. Mereka belum puas dan membuat spin off lagi yang berjudul The City yang bertempat di New York City. But I’m done.

Terus menerus acara seperti ini dibuat. Seperti My Super Sweet 16. Seperti puluhan reality show lain yang tidak ada gunanya sama sekali. Laguna Beach, dengan ide bahwa ini adalah reality drama, gagal menanamkan guna apapun. Saya tidak mengerti guna dari menonton seri ini. Sama sekali tidak mengerti. MTV pun membohongin penonton dengan berkata ini adalah 100% tanpa rekayasa dengan kenyataannya baru kemudian diakui MTV bahwa reality drama ini ternyata tidak serealistis itu. Terlepas dari realistis atau tidak, satu fakta pasti. Film seri ini, bukan hanya tidak berguna, tapi tidak menghibur. Untuk saya, kerugian besar dalam hidup saya adalah menghabiskan dua season dari Laguna Beach.

HAPSARI DARMASTUTI

Tags: ,

Leave a Reply

 

Trackbacks

Leave a Trackback